Kita telah mengetahui bahwa bulan Syakban penuh berkah dan kemuliaan. Salah satu bentuk dalil lain yang menunjukkan kemuliaan bulan Syakban tepatnya malam nishfu Sya’ban (nisfu Syakban) dengan mempunyai banyak nama. Ini sesuai dengan sebuah kaidah berbunyi: “Banyak nama menunjuki kemulian zatnya”.

Dalam kajian para ulama menyebutkan beberapa nama untuk malam nisfu Syakban. Salah seorang ulama terkemuka, Imam Ahmad bin Isma’il bin Yusuf al-Thaliqani menyebutkan, nama-nama malam nisfu Syakban hingga mencapai 22 nama. Di antaranya: pertama, Lailatul-Barakah, artinya malam keberkahan (bertambah). Kedua, Lailatul-Qasamah Wa Takdir, karena Allah SWT menunaikan satu urusan yang besar pada malam tersebut. Ketiga, Lailatul-Takfir (malam penghapusan) karena malam tersebut menghapus dosa. Keempat, Lailatul-Ijabah (malam pengabulan doa) karena riwayat dari Ibnu ‘Umar bahwa malam tersebut doa hamba tidak ditolak oleh Allah SWT. Kelima, Lailatul-Hayyat (malam kehidupan) karena hadis riwayat Ishaq bahwa malaikat maut pada malam tersebut tidak mencabut nyawa seseorang antara Magrib dan Isya karena ia menerima buku amalan dari Allah SWT. Pendapat yang lain mengatakan karena Allah tidak akan mematikan hati orang-orang yang menghidupkan malam tersebut.

Keenam, Lailatul-‘Idil-Malaikat (malam hari raya malaikat) karena malaikat juga memiliki dua malam hari raya seperti umat Islam memiliki dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha. Kedua hari raya malaikat tersebut adalah malam nisfu Syakban dan malam Qadar sebagaimana telah disebutkan Imam ‘Abdullah Thahir bin Muhammad bin Ahmad Al-Haddad dalam kitabnya, ‘Uyun al-Majalis.

Ketujuh, Lailatul-Syafa’ah (malam syafaat) karena diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ketika Rasulullah SAW shalat pada malam tersebut, turunlah malaikat Jibril dan berkata pada Rasulullah: “Allah SWT telah membebaskan setengah dari umat engkau dari api neraka”. Kedelapan, Lailatul-Bara-ah (malam kelepasan) karena pada malam tersebut Allah menuliskan kelepasan orang mukmin dari api neraka.

Kesembilan, Lailatul-Jaizah (malam ganjaran) karena Allah memerintahkan kepada surga untuk berhias bagi orang beriman sebagai balasan amal mereka. Kesepuluh, Lailatul-Nasakh (malan penulisan) karena ada riwayat dari ‘Atha’ bin Yasar yang mengatakan bahwa pada malam nisfu Syakban, malaikat maut menuliskan orang yang meninggal dari Syakban ini hingga Syakban tahun depan.

Kesebelas, Lailatul-al-‘Itqi Min al-Nar (malam kemerdekaan dari api neraka) karena pada malam tersebut Allah memerdekakan banyak hamba-Nya dari api neraka. Keduabelas, Lailatul-Rujhan  (malam keunggulan).  Ketiga belas, Lailatu- Ta’zhim (malam keagungan). Selanjutnya, dinamakan juga dengan  Lailatul-Qadar (malam ketentuan), Lailatul-Ghufran (malam pengampunan),  Lailatul-Rahmat (malam rahmat). Lailatul-Shak (malam buku catatan) dan lain-lainnya.  (Kitab al-Shawi, Ahmad al-Shawi al-Maliki, Hasyiah al-Shawy `Ala Tafsir Jalalain, Juz. IV (Beirut: Dar al-Fikr, tt) hal. 76; al-Fasyani, Ahmad bin Hijazi, Tuhfat al-Ikhwan…, hal 60-62; al-Luban, Muhammad bin Muhammad, Baqat al-Raihan Fi Ma Yata’allaq Bi Lailat al-Nishf Min Sya’ban, (t.tp: tp, tt) hal 4-6.)

Berdasarkan penjelasan di atas jelas menunjukkan malam nisfu Syakban termasuk di antara bulan yang berkah dan banyak mempunyai kelebihan. Hal ini senada dengan perkataan Imam Syafi’i berbunyi: “Telah sampai riwayat kepada kami bahwa dikatakan do’a dikabulkan pada lima malam, yaitu pada malam Jum’at, malam hari raya Adha, malam hari raya Fithri, awal malam bulan Rajab dan malam nishfu Sya’ban”. (Muhammad bin Idris, al-Umm, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar al-Fikr, 2009) hal. 254)[]