BerandaInspirasiIslamRamadan; 'Bulan yang Dilupakan'

Ramadan; ‘Bulan yang Dilupakan’

Populer

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dosen Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe

Dalam beberapa hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi hadis seperti Bukhari dan Muslim juga lainnya disampaikan bahwa tidak ada hari-hari atau bulan yang di dalam bulan tersebut nabi memperbanyak puasa sunat melebihi daripada bulan Sya’ban. Sehingga Aisyah sempat mengomentari puasa nabi di bulan tersebut dengan kata-katanya, “nabi itu kalau berpuasa tampak seakan-akan tidak berbuka, dan aku tak pernah melihat beliau memperbanyak puasa (sunat) melebihi dari puasanya di bulan Sya’ban”. Karena kebiasaan tersebut seorang sahabat lain, Usamah bin Zaid bin Haritsah yang dikenal dengan alhubb ibnil hubb (orang yang dicintai anak dari orang yang dicintai) bertanya kepada Rasulullah perihal puasanya tersebut, lalu dijawab, “itu adalah bulan yang dilupakan banyak orang, bulan yang padanya Allah mengangkat amalan seseorang ke langit, dan aku suka saat amalku diangkat kondisiku sedang berpuasa”.

Keistimewaan Bulan Sya’ban

Hadis nabi di atas mengajarkan kita banyak hal, di antaranya adalah bahwa beribadah atau berbuat baik pada saat orang-orang sedang lalai dari ibadah atau kebaikan tersebut nilainya akan berbeda di sisi Allah, dan pastinya lebih banyak dibandingkan beramal pada saat banyak orang juga ikut melakukan hal yang sama. Karena secara psikologis, melakukan sesuatu secara bersama-sama akan terasa lebih ringan dibandingkan jika dilakukan secara bersendirian. Orang yang berada di masjid dengan orang-orang di sekitarnya sibuk shalat, zikir, baca Quran dan ta’lim tentu akan sangat mudah mendorongnya melakukan hal yang sama. Berbeda jika ia kembali ke rumah, hanya sendiri, ditambah lagi tak ada suasana ibadah, tentu akan terasa lebih berat. Itulah alasannya mengapa al-Quran hadir dengan sejumlah kisah umat terdahulu. Hikmahnya adalah untuk menggembirakan dan meringankan duka nabi dalam berdakwah. Perasaan berat yang dialami nabi karena pembangkangan sebagian umatnya akan terasa ringan saat mengetahui bahwa nabi-nabi terdahulu ternyata mengalami hal yang serupa.

Sesuatu yang dirasakan dan dilakukan bersama-sama akan menjadi ringan dan mudah. Itulah barangkali mengapa agama ini bertumpu pada jamaah. Suatu pekerjaan, seberat apapun, jika dikerjakan secara gotong-royong, bersama-sama dan berjamaah akan terasa lebih ringan. Namun sebaliknya, suatu amal, ringan sekalipun, tetapi karena dilakukan sendiri, maka perasaan berat kerap kali menghantuinya. Shalat malam misalnya, walau hanya satu rakaat witir ia akan terasa berat, karena saat itu orang-orang sedang nyenyak terlelap tidur. Itulah rahasia anjuran nabi, “shalatlah di malam hari, saat orang-orang sedang tidur, maka kamu akan masuk sorga dengan mudah dan selamat”, (HR: Bukhari).

Dalam Islam ada namanya pahala sulit atau susah. Semakin sulit atau rumit yang dirasakan seseorang dalam menjalani sesuatu, maka pahalanya semakin besar. Nabi dalam sebuah hadis mengatakan, “siapa yang membaca al-Quran sementara dia kesulitan melafalkan huruf-hurufnya maka kepadanya diberikan dua pahala”, (HR: Muslim). Pahala baca dan pahala kesulitan saat membaca. Dalam hadis lain diceritakan, suatu hari Abdullah ibnu Mas’ud berkunjung ke rumahnya Rasulullah saw, ia mendapati nabi sedang dalam keadaan sakit parah, lalu berkata, “wahai Rasulullah, sakitmu sangat berat”. Rasulullah menjawab, “benar, sakit yang kurasa setara dengan dua orang sakit dari kalian”. Spontan Abdullah bertanya, “jadi engkau akan mendapatkan dua pahala?” “Benar,” jawab Rasulullah saw”, (HR: Bukhari dan Muslim). Itulah alasannya mengapa nabi memilih berpuasa pada saat banyak orang tidak melakukannya. Karena akan terasa lebih berat, dan pahalanya tentu akan lebih besar.

Alasan lainnya yang tak kalah penting adalah, amalan yang tersembunyi dari banyak orang lebih mudah terhindar dari penyakit “riya” dibandingkan jika amalan itu tampak dan terbuka karena dikerjakan oleh banyak orang. Makanya shalat sunat rawatib meskipun boleh dikerjakan di masjid, baik setelah maupun sebelum shalat fardhu, sebaiknya dilakukan di rumah. Nabi mencontohkan demikian. Beliau selalu mengerjakannya di rumah. Di samping bertujuan menyuasanakan rumah suasana masjid, mengerjakan di rumah lebih dekat pada kejujuran (keikhlasan) dibandingkan kalau ia mengerjakannya di masjid dan disaksikan banyak orang. Artinya dorongan beribadah saat sendiri bisa dipastikan lebih pure (murni) dibandingkan jika ibadah itu dikerjakan secara terbuka dan sama-sama. Ini tidak berarti shalat fardhu yang dilakukan sendiri lebih baik dari shalat fardhu berjamaah, lalu membenarkan sikap sebagian orang yang tidak ke masjid dengan alasan “takut riya”. Dalam hal ini kita harus kembali pada apa yang dicontohkan Rasulullah. Beliau mencontohkan ibadah tertentu dilakukan secara terbuka dan bersama-sama, juga mencontohkan sebagian ibadah dikerjakan secara rahasia dan tersembunyi. Semua praktik tersebut ada maksud, rahasia dan hikmahnya.

Kembali pada alasan nabi memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, dalam sambungan hadis di atas beliau beralasan bahwa Sya’ban adalah bulan diangkatnya amalan ke langit. Berbuat baik di waktu pintu langit terbuka menjadi incaran dan favorit nabi saw. Kenyataan ini menunjukkan bahwa amalan orang yang berpuasa sangat mungkin memiliki nilai lebih di sisi Allah saat dinaikkan kepada-Nya dibandingkan dengan kebaikan orang-orang yang pada saat bersamaan kondisinya tidak berpuasa. Itulah agaknya mengapa nabi bersabda, “aku suka saat amalanku diangkat ke langit, kondisiku sedang berpuasa”. Melalui hadis ini nabi sebenarnya ingin mengajarkan umatnya untuk mencari nilai tambah dan pahala lebih pada setiap kebaikan yang dikerjakan. Pelajaran ini pastinya hanya berfaedah buat mereka yang memiliki iman dan keyakinan kuat soal balasan Allah Swt.

Bulan yang Terlupakan

Pelajaran lain yang tak kalah penting adalah bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi kedatangan bulan Ramadan. Saat nabi membiasakan puasa dalam jumlah hari yang banyak di bulan Sya’ban sepertinya beliau ingin berpesan kepada umat ini agar mempersiapkan segala sesuatunya sebelum memasuki bulan suci Ramadan, baik persiapan fisik maupun nonfisik (ruhi). Bukankah selesai dari Sya’ban, umat Islam akan memasuki bulan Ramadan. Kedua jenis persiapan ini mutlak diperlukan. Secara fisik seseorang yang terbiasa berpuasa sunat tentu akan memudahkan baginya melaksanakan puasa wajib (fardhu). Apalagi posisi bulan Sya’ban yang secara astronomis bersambung dengan bulan Ramadan, pastinya puasa sunat yang dikerjakan sebelumnya akan sangat membantu memperkuat dirinya melakukan puasa wajib. Kuat dalam makna yang lebih luas. Berbeda dengan orang-orang yang memasuki bulan Ramadan tetapi tidak terbiasa dengan puasa sunat, atau pernah melakukannya tapi sangat jarang atau sudah lama sekali, maka dapat dipastikan mereka akan mengalami kejutan fisik.

Kejutan fisik biasanya ditandai dengan lemahnya tubuh seseorang saat berpuasa, seperti yang terjadi pada anak-anak. Hal ini tidak hanya berdampak pada pribadi yang berpuasa sehingga membuatnya tidak produktif sepanjang hari-hari ia berpuasa, tetapi berpengaruh besar pada praktik puasa yang tanpa sadar telah melahirkan tradisi “buruk” dalam menjalani ibadah tersebut di bulan Ramadan. Bulan yang seharusnya orang-orang bisa bersikap sederhana dan minimalis dalam soal makan minum tiba-tiba berubah menjadi buas dan rakus. Bulan yang dikenal dengan puasa (tidak makan dan tidak minum) berganti rupa menjadi bulan kuliner dan pesta makan. Di mana-mana orang menjajakan makanan atau ragam minuman, terutama pada setiap sore hari menjelang waktu berbuka.

Makan-makan atau makan besar sudah menjadi hal yang lumrah setiap bulan Ramadan tiba. Kondisi ini salah satunya dipicu oleh sikap kebanyakan orang yang jarang berpuasa sunat, lalu tiba-tiba diwajibkan menahan diri dari makan dan minum. Mereka mudah merasakan lapar karena fisiknya belum siap dan tidak terbiasa. Orang yang lapar atau haus, fokus otaknya pasti tertuju pada makanan dan minuman, dan semakin fokus, maka ia akan semakin lapar dan haus. Oleh itu tak perlu heran jika orang seperti ini sepanjang hari pikirannya tertuju pada waktu berbuka, pada makanan dan minuman. Keinginan makan dan minumnya juga meningkat tajam dibandingkan hari-hari biasa tanpa puasa. Mereka seperti anak-anak yang baru diajarkan puasa. Fisiknya berpuasa tetapi bawaan pikirannya fokus pada makan dan minum. Mereka inilah yang hari ini mendominasi ruang bulan Ramadan dan mengubahnya menjadi bulan makan-makan. Malangnya, orang-orang yang selama ini giat berpuasa sunat, termasuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, tanpa sadar terikut tradisi mereka, subhanallah.

Itulah mengapa perlu membiasakan diri rutin berpuasa sunat, terutama sunat Sya’ban. Di samping menjadi gladibersih dan bentuk persiapan fisik sebelum memasuki Ramadan, berpuasa di bulan Sya’ban secara subtansi merupakan wujud kegembiraan hati menyambut bulan suci Ramadan. Islam mengajarkan umatnya untuk bergembira dengan agama ini yang secara keseluruhan memuat aturan-aturan atau syariat, salah satunya puasa Ramadan. Allah berfirman, “Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan“, (Yunus: 58). Bergembira karena agama Allah merupakan bagian dari iman dan ciri ketakwaan seseorang. Dalam ayat lain Allah berfirman, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”, (al-Haj: 32). Memperbanyak puasa di bulan Sya’ban merupakan bukti dari kegembiraan hati menyambut datangnya bulan Ramadan dan sekaligus pengagungan atas syi’ar-syi’ar Allah Swt.

Namun sungguh disayangkan, bulan yang sangat mulia, yang di dalamnya penuh dengan berbagai kebaikan dan limpahan pahala, ampunan dan pembebasan dari api neraka, kini tak lagi ditunggu kedatangannya, kecuali hanya oleh segelintir orang. Hanya secuil dari umat ini yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadan. Selebihnya sibuk dengan dunianya masing-masing, dan tiba-tiba saja di jalan-jalan utama terpampang baliho atau spanduk bertuliskan, “sirup cap kuda terbang mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadan”. Orang disadarkan dengan bulan Ramadan oleh berbagai iklan produk makanan, minuman dan pakaian. Para pembisnis yang sangat mungkin bukan muslim, lebih aware dengan Ramadan dibandingkan dengan umat Islam itu sendiri. Sering kali umat Islam keduluan oleh mereka. Ini sebuah kenyataan dan pil pahit yang harus ditelan bahwa banyak umat Islam tak lagi peduli dengan agamanya, walau sebatas basa basi sekalipun. Mereka sibuk mengejar dunia, yang umat lain telah jauh meninggalkan mereka. Akhirnya, suka tidak suka, umat ini kehilangan segala-galanya.

Sya’ban adalah bulan yang dilupakan banyak orang kata Nabi, dan ternyata saat orang melupakan Sya’ban, tidak peduli dengan keberadaan bulan tersebut, sebenarnya mereka sedang melupakan bulan Ramadan. Wallahua’lam.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya