MANDAHNI, A.Md, 53 tahun, sosok pejuang pendidikan yang telah mengabdi sebagai guru honorer di daerah terpencil, tiba-tiba menjadi perhatian peserta upacara Hardikda ke-57 di Pidie.
Guru honorer mata pelajaran Biologi di SMP Negeri Mane itu hanya digaji Rp600 ribu per bulan dari Pemerintah Aceh. Mandahni mendapat penghargaan dari Bupati Pidie H. Sarjani Abdullah saat peringatan Hari Pendidikan Daerah ke-57, Jumat, 2 September 2016.
Wajah dan mata Mandahni tampak lembab ketika menerima penghargaan yang diserahkan Bupati Pidie. Seperti mimpi karena tidak pernah terbayang, mendapatkan penghargaan dan bisa bertemu langsung dengan Bapak Bupati Pidie, kata Mandahni.
Mandahni, barangkali dapat disebut sebagai Oemar Bakri di daerah perdalaman Pidie yang telah berjuang dan mengabdi lebih 20 tahun sebagai guru honorer.
Setiap hari, ayah tujuh anak ini mengajar selama 5 jam yang kadang kala harus mengajarkan pula mata pelajaran lain saat guru bersangkutan berhalangan.
Berbekal ijazah Diploma, Mandahni mulai menjadi guru honorer sejak tahun 1996 di SMA Swasta Pelita Geumpangsekarang SMA Negeri Geumpang. Tahun 2000, ia pindah tugas menjadi honorer SMP Beungga sampai saat ini.
Itu ia lakukan karena panggilan jiwa dan kepedulian untuk mengentaskan kebodohan dan kemiskinan yang ada di hadapannya.
Menurut pengakuan suami Ernawati ini, selama menjadi guru di daerah perdalaman, ia pernah tidak mendapatkan gaji. Bahkan saat konflik Aceh, Mandahni berangkat ke sekolah melewati banyak pos militer dengan perasaan was- was. Tekad saya, bagaimana bisa ke sekolah dan tetap bisa mengajar, ujarnya.
Pengabdian guru ini luar biasa, tanpa mengeluh, walau ada mantan muridnya kini telah menjadi kepala sekolah. Itu Bapak Muhammad A. Latif, Kepala SMP Negeri 3 Mane, dulu murid saya yang telah berhasil dan sukses, kata Mandahni sambil menunjuk mantan siswanya itu.
Mandahni ingin jadi PNS? Owww ingin sekali! Tapi, apa daya, keinginannya itu hanya menjadi harapan semu. Bahkan K2 (honorer katagori 2) saja, saya tidak lulus, karena pemerintah memberi syarat yang kadang sulit terpenuhi, cetusnya.
Namun syarat itu tak menggoyahkan semangat Mandahni untuk terus mengajar, mengajar dan mengajar. Apalagi di gampong tempat Mandahni mengajar, banyak sekali anak putus sekolah.
Mandahni masih berharap semoga tahun 2017 ini ia bisa diangkat menjadi PNS di akhir masa pengabdiannya yang tiga tahun lagi memasuki masa pensiun.
Semoga Hardikda ke-57 dapat menginspirasi pemerintah untuk peduli terhadap guru-guru yang melakukan pengabdian di daerah perdalaman, seperti Mandahni.[]





