BANDA ACEH Mantan Juru Runding Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Cut Mutia, mengatakan kampanye perdamaian Aceh tidak maksimal.
Masih ada masyarakat yang tidak tahu 10 tahun perdamaian Aceh, kata Cut Meutia atau dikenal dengan Cut Farah kepada portalsatu.com di Banda Aceh, Rabu, 12 Agustus 2015.
Menurutnya sejarah perdamaian yang disepakati di Helsinki oleh Pemerintah Indonesia dan GAM akan dilupakan oleh masyarakat karena ketidakpahaman tersebut. Hal ini akhirnya juga berimbas kepada lambatnya pembangunan dan investasi Aceh.
Seharusnya perayaan 10 tahun perdamaian Aceh seperti perayaan 17 Agustus bagi rakyat Indonesia. Semua masyarakat tahu kalau perayaan 17 Agustus, karena tanggal itu ada beberapa kegiatan yang dilakukan yang bisa menghibur masyarakat, seperti ada panjat pinang dan lain sebagainya, ujar Cut Farah yang juga mantan Juru Runding CoHA 2002 dan Tokyo Meeting 2003.
Menurutnya 15 Agustus adalah hari dimana mengakhiri konflik berkepanjangan dan banyak pengorbanan dari kedua belah pihak dan masyakat Aceh. Begitu juga 17 Agustus yang diwujudkan setelah perjuangan melawan penjajahan.
Fenomena saat ini yang mendapat perhatian besar adalah peringatan hari tsunami Aceh. Padahal, perdamaian Aceh adalah momen besar bagi masyarakat untuk pembangunan Aceh yang lebih baik, ujar politisi Partai Aceh ini.
Ia mengatakan saat dirinya bertemu dengan masyarakat di gampong, pernah bertanya berapa tahun sudah perdamaian Aceh. Masyarakat itu menjawab, neu bileng laju dari tsunami phon.
Selain itu, dia juga mengatakan, selama ini masyarakat Aceh belum sepenuhnya merasakan perdamaian karena saat pemilu masih mendengar adanya letusan senjata dan bom. Hal ini diperparah dengan kondisi masyarakat yang belum mendapatkan kesejahteraan dari buah perdamaian Aceh.
Seharusnya, sudah 10 tahun damai, masyarakat Aceh harus bisa mengisi perdamaian, agar sejarah tentang perdamaian Aceh dikenang oleh generasi Aceh sepanjang masa, ujarnya lagi.
Ia khawatir kalau perdamaian Aceh tidak dipahami oleh masyakat akan menyebabkan masyarakat tidak tahu tentang Daerah Operasi Militer, Darurat Militer, Darurat Sipil, MoU Helsinki dan lain sebagainya.
Masyarakat, mahasiswa akan lupa perjuangan rakyat Aceh untuk menuntut perdamaian kalau perdamaian tidak dikampanyekan kepada seluruh masyarakat Aceh dan luar Aceh, ujar mantan aktivis Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) ini.[](bna)




