BANDA ACEH – Kepala BPMA Marzuki Daham mengatakan, sejauh ini ia mendapat dukungan penuh dari SKK Migas dan Ditjen Migas Kementerian ESDM. Itu sebabnya, meski masih sendirian di BPMA, Marzuki terus berkerja mulai dari hal-hal kecil seperti menyelesaikan kop surat dan stempel untuk kegiatan administrasi.

“Yang lebih penting lagi sejak pelantikan (kepala BPMA) ini kan masa peralihan. SKK Migas sudah kumpulkan KKS (kontraktor kontrak kerja sama migas wilayah Aceh), sambil kenalan (dengan kepala BPMA),” kata Marzuki dihubungi portalsatu.com lewat telpon seluler, Minggu, 17 April 2016.

Marzuki berharap masa transisi ini (peralihan kewenangan SKK Migas kepada BPMA terkait Migas Aceh) selesai dalam enam bulan. “Tapi kegiatan operasi (eksploitasi Migas oleh KKS) tidak boleh berhenti (pada masa transisi ini). Yang meng-handle, evaluasi tetap ke channel biasa (SKK Migas), tapi tetap ditujukan ke kita (BPMA). Ini yang sudah kita lakukan dan berjalan lancar antara SKK Migas dan BPMA,” ujarnya.

Disinggung  ada berapa KKS di Aceh saat ini, Marzuki menyebut ada 11 KKS yang sedang eksplorasi (pencarian cadangan migas). Sedangkan yang sedang melaksanakan rutinitas operasi di antaranya PT Pertamina Hulu Energi (PHE), anak perusahaan PT Pertamina yang mengelola Blok B di Aceh Utara dan Blok NSO (lepas pantai), setelah mengambil alih dari ExxonMobil. Ada pula Pertamina EP Rautau Field di Aceh Tamiang, dan KKS yang tengah melakukan pengembangan seperti Medco di Aceh Timur (Blok A).

“Yang lainnya sedang mencari, tentu ini harus kita dukung, karena jika berhasil (menemukan cadangan migas baru) akan menghasilkan manfaat besar untuk Aceh ke depan,” ujar Marzuki.[] (idg)