MALAM itu Rabu 18 Januari 2017. Saya dan Lodins melajukan sepeda motor dalam hujan deras. Kami ingin menemui aktivis senior, Rizal Usman dari ACSTF (Acehnese Civil Society Task Force), yang baru pulang dari Patani, Thailand.

Di kedai kopi yang berada di dekat Terminal Bus Batoh itu telah lebih dulu ada Abu Taqiyuddin Muhammad, seorang peneliti sejarah kebudayaan Islam di Asia Tenggara, terutama Samudra Pasai dan Aceh Darussalam. Kedai itu memang tempat ia dan para aktivis kebudayan lainnya dari Mapesa dan CISAH dan lainnya minum kopi bersama dan bebincang dari senja sampai subuh.

Namun saya yang hanya sesekali ke sana bila ada yang ingin dibincangkan, dan ke sana malam itu tanpa ada perjanjian untuk membicarakan sesuatu pun. Lagi pula yang menentukan itu tempat pertemuan adalah Bang Rizal Usman.

Ketika saya tiba, Rizal Usman pun tiba. Sebelumnya ia telah mengatakan bahwasanya dari tempatnya berangkat ada hujan deras. Begitu pula dari tempat saya berangkat, hujan deras tengah menghujani malam. Tapi kami sepakat untuk menerjang hujan malam itu. Ya, sama-sama 'gila'.

Maka ia pun menceritakan apa yang ada di Patani. Ketika ia ingin menunjukkan foto masjid berusia lebih 500 tahun dan kuburan Tok Pasai, saya mengatakan bahwasanya Taqiyuddin Muhammad telah menemukan juga nisan zaman Samudra Pasai yang menyebutkan Ayothaya di Patani.

Maka, Taqiyuddin yang tengah asik membaca di meja seberang kami pun dipanggil, untuk melengkapi percakapan masa silam itu. Dan dengan khidmad, tokoh berkharismatik di dalam dunia kebudayaan Aceh itu pun bergabung. Maka percakapan pun semakin seru sampai tengah malam berlalu.

Patani merupakan wilayah muslim Melayu yang kini berada dalam wilayah Kerajaan Thailand. 

Rizal Usman menceritakan pengalamannya di Patani, Selatan Thailand. Ia mengunjungi tempat-tempat yang menandakan pengaruh Aceh di semenanjugn Melayu tersebut begitu kuat merasuk peradaban mereka.

Penduduk di sana menceritakan, bahwasanya, jauh tahun sebelum Ayothaya menguasai Patani, telah datang ke sana seorang cendikiawan dari Samudra Pasai (sekarang ibukotanya masuk wilayah Aceh Utara dan Lhokseumawe, Aceh). Orang alim itu dikenal dengan sebutan Tok Pasai.

Tok Pasai membawa misi dakwah dengan cara damai yang berhasil dengan baik. Yang pertama sekali diislamkannya adalah raja Patani, setelah itu seluruh rakyatnya menjadi muslim.

Setelah masuk Islam, raja itu pun menggantikan namanya menjadi Sulthan Mudhafar Syah, dan membangun sebuah masjid dengan gaya Samudra Pasai, pada tahun 877 Hijriah (Sekira tahun 1470-an Masehi). Tahun-tahun ini merupakan tahun Kesultanan Samudra Pasai berjaya.

Sejarah tentang Tok Pasai dan para sultan dan sultanah di Patani, serta keadaan negeri itu setelah dikuasai oleh Atothaya, ditulis di dalam buku-buku sekolah di wilayah tersebut.

Ketika mengunjungi Makam Tok Pasai, Rizal Usman melihat ada pohon nangka, bak manee, pohon pisang, dan rumput yang persis seperti yang ada di kampung-kampung di Aceh.

“Kampung tempat makam Tok Pasai ini disebut Kampung Aceh. Dan, ada sekira sirante lebih (500 meter) tanah di lingkungan makam ini tidak dimiliki oleh siapapun di sana. Itu tanah Tok Pasai. Bahkan para raja Ayothaya atau kerajaan Thailand sekarang pun tidak mengklaim tanah itu. Itu milik Tok Pasai selamanya,” kata Rizal Uslam, di Banda Aceh, Rabu 18 Januari 2017.

Gambar di atas direkam oleh Rizal Usman dari LSM ACSTF, saat mengunjungi Patani dalam rangka mengirim guru ke beberapa sekolah di beberapa wilayahnya. Sebelum perbincangan itu usai, Taqiyuddin Muhammad pun berniat ke Patani ingin melihat langsung artefak Samudra Pasai di Patani.[]