LHOKSUKON – Sejumlah desa di Kemukiman Buah, Kecamatan Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara mengeluhkan tidak adanya air bersih. Masyarakat setempat harus menempuh jarak ratusan meter untuk mendapatkan air bersih dari salah satu sumur warga.

“Selama empat hari mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unimal dan terjun langsung di tengah masyarakat, kebanyakan mengeluhkan minimnya air bersih,” kata Hidayatullah, mahasiswa KKN Unimal di Desa Matang Paya, Kecataman Baktya Barat kepada portalsatu.com, Senin 25 April 2016.

Menurut Hidayat, di Kemukiman Buah ada Desa Matang Paya, Cot Laba, Meunasah Pante, Cot Murong, Beurandeh Paya, Menasah Hagu, Blang Rhee, Lhok Encin dan Paya Bateng yang sangat membutuhkan air bersih. 

“Kondisi air di Kemukiman Buah tampak kuning, pahit serta ada yang asin dan ini  sangat berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi,” tambah Hidayat.

Hidayat juga menjelaskan untuk memasak saja masyarakat Kemukiman Buah khususnya Desa Matang Paya harus menempuh jarak ratusan meter untuk memeroleh air sedikit lebih bersih dari salah satu sumur warga.

“Ada yang mengangkut dari sumur warga lainnya dan ada juga yang membeli air galon (isi ulang). Kami mahasiswa KKN Unimal di Desa Matang Paya berharap kepada Pemerintah Aceh Utara untuk bisa memperhatikan keluhan masyarakat khususnya air bersih,” ujarnya.

Hidayat dan rekannya meminta PDAM Tirta Mon Pase untuk menyuplai air bersih melalui pipa yang sudah dipasang dari kawasan Sampoinit sampai Desa Lhok Encin.

Hal sama dikatakan Yanti, mahasiswa KKN di Desa Matang Sijuek Barat, Kecamatan Baktiya Barat. Dia menyebutkan kondisi ini sangat memprihatinkan bagi masyarakat setempat. Pasalnya, mereka harus membeli air bersih baik untuk minum maupun keperluan memasak.

“Masyarakat harus membeli air per galonnya Rp5 ribu, dan ini selalu dibeli oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-harinya. Kami sangat sedih melihat kondisi ini, seharusnya Pemerintah Aceh Utara prihatin dan mau mengalirkan air PDAM ke Kecamatan Baktiya Barat,” tambah Yanti.[]