BANDA ACEH – Solidaritas untuk Rakyat Daerah Terpencil (SuRaDT) membuat pemberdayaan kelompok masyarakat melalui pendampingan pembuatan abon ikan. Kegiatan itu dibuat dalam bentuk pelatihan, pemberian bantuan peralatan usaha dan monitoring kepada kelompok binaan.

“Arus globalisasi MEA yang telah berlaku di Indonesia sejak 1 Januari 2016 merupakan tantangan besar bagi kita semua. Untuk itu, masyarakat Aceh harus dipersiapkan untuk menghadapinya, sehingga ke depan masyarakat kita tidak menjadi penonton di negeri sendiri,” kata Ketua SuRaDT, Delky Nofrizal Qutni, melalui siaran pers yang diterima redaksi, Rabu, 13 Januari 2016.

Aceh memiliki potensi alam yang cukup kaya dari berbagai sektor. Karena itu katanya, masyarakat harus diberdayakan agar potensi tersebut bisa diberdayakan. Pada dasarnya kata Delky, ada beberapa hal yang mendasar dalam pengembangan usaha di Aceh yaitu modal, motivasi kewirausahaan, SDM dan pasar.

“Hal ini perlu diperhatikan oleh segenap pihak, terutama Pemerintah Aceh sebagai stakeholder utama,” katanya.

Pendampingan tersebut akan menjadi pilot proyek dan diharapkan bisa dikembangkan ke berbagai pelosok terpencil dan daerah pesisir. Agar potensi lokal yang ada bisa dioptimalkan untuk pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Pihaknya kata Delky, meminta Pemerintah Aceh pada tahun ini fokus untuk membangun sistem ekonomi masyarakat. Baik itu melalui penguatan/pendampingan kewirausahaan masyarakat, melalui penerapan teknologi tepat guna, padat karya produktif, pembinaan agropreneur, penguatan sentra produksi, industri kreatif dan penguatan ekonomi kreatif

“Jangan sampai alokasi anggaran untuk seremonial lebih besar  daripada pemberdayaan masyarakat. Jika pemerintah siap kita sudah miliki data potensi di 10 kawasan terpencil untuk diberdayakan. Apalagi isu terkait MEA itu sendiri belum menyentuh masyarakat daerah terpencil,” katanya.

Program yang dilakukan SuRaDT merupakan bantuan dari Kementerian Tenaga Kerja RI. Program ini dilaksanakan di daerah pesisir Ulee Pata Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Kelompok tersebut akan dibina secara intensif oleh Disnaker dan Mobduk Aceh melalui Tenaga Kerja Sarjana (TKS) Provinsi Aceh yang pernah mendapat juara II TKS tingkat nasional.

“Besar harapan kita kegiatan-kegiatan seperti ini dapat dioptimalkan agar kelompok-kelompok masyarakat produktif dalam upaya meningkatkan taraf ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi tingkat pengangguran di bumi Serambi Mekkah ini,” ujarnya.[] (ihn)