Bernalar merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh kalimat. Bila hal itu tak terpenuhi, jadilah kalimat itu sebagai kalimat yang salah nalar seperti kalimat ini.

“Mayat wanita yang ditemukan itu sebelumnya sering terlihat mondar-mandir di sekitar kompleks tersebut.”

Sepintas tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Namun, jika dilihat dengan saksama, tampak ada yang tidak bernalar pada kalimat itu. Ini dapat diperiksa jika kita bertanya siapa yang mondar-mandir? Jawabannya tentu saja mayat wanita.

Bernalarkah mayat wanita mondar-mandir? Tentu saja tidak.

Bila dianalisis lebih detail, kalimat itu sebenarnya mengandung dua pernyataan, yaitu (1) Mayat wanita ditemukan, dan (2) Sebelum menjadi mayat, wanita itu sering mondar-mandir di sekitar kompleks tersebut.

Tampak bahwa kedua pernyataan itu berbeda. Pernyataan pertama sudah menjadi mayat, sedangkan yang kedua belum menjadi mayat. Namun, karena kurang telitinya penulis, kedua pernyataan itu digabungkan dalam sebuah kalimat sehingga terbentuklah kalimat yang  tidak bernalar seperti di atas.

Seharusnya kalimat itu ditulis “Sebelum ditemukan menjadi mayat, wanita itu sering mondar-mandir di sekitar kompleks.”[]