Oleh Masriadi Sambo
MENJELANG Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017 mendatang, sejumlah orang mulai mendekat ke rakyat. Seolah-olah berjasa. Seakan pro-rakyat. Menebar poster dan senyum di sejumlah tempat. Dari baliho resmi di pusat kota, hingga kabel listrik terpasang poster para bakal calon kepala daerah.
Ada yang mengklaim mendapat restu ulama, dukungan pemuda, hingga dukungan kaum hawa. Semua itu ingin memperlihatkan bahwa sosok yang satu ini layak dan patut dipilih.
Sebaliknya, calon tim sukses yang dekat dengan para kandidat mensosialisasikan secara masif sosok yang mereka dukung. Terlepas sosok itu jadi atau tidak menjadi calon kepala daerah mendatang.
Hingga kini, baru Muzakkir Manaf yang pasti menjadi calon gubernur Aceh. Kandidat lainnya, seperti TM Nurlif, Irwandi Yusuf, Ahmad Farhan Hamid, baru sebatas hendak maju. Maklum, partai pengusung nama-nama terakhir itu tidak cukup suara untuk mengusung calon sendiri. Mereka harus menggalang koalisi.
Meski begitu, kerja-kerja kampanye terus dilakukan. Di sinilah titik awalnya para tim sukses memilih maop (hantu). Maop dalam konteks ini bermakna orang yang bisa menyokong. Dalam kata lain disebut beking.
Selain frase maop, di komunitas masyarakat kita dikenal pula istilah gapit-gapit aneuk rimeung (membawa anak harimau). Konteks ini digunakan untuk menakut-nakuti orang lain. Bahwa seakan-akan dirinya didukung oleh tokoh tertentu. Dan, itu sebagain besar hanya klaim semata.
Sehingga, tak jarang nama-nama sejumlah tokoh ditabalkan dengan kandidat tertentu. Di sinilah idiom maop dan gapit aneuk rimueng berlaku. Tujuannya hanya satu: meraih suara rakyat. Berharap menang dalam pilkada dan duduk di kursi empuk kekuasaan.
Ihwal maop ini juga berlaku dalam lobi melobi proyek dan urusan tertentu di pemerintah hingga kantor swasta. Satu hari, seorang teman bercerita, dia ingin membeli sepeda motor dengan membayar lunas bukan kredit. Sebuah showroom menyatakan tidak tersedia barang.
Esok pagi, petugas showroom menyatakan hanya ada sepeda motor dengan pola pembayaran kredit. Teman inipun geram. Mau bayar lunas saja susah. Dia pun menyebut nama seorang tokoh di Aceh Utara. Sampai urusan beli sepeda motor saja kita harus tapeumaop. Baru beres urusan, katanya.
Bahkan, sebulan terakhir, para penipu pun di Aceh Utara mencatut nama sejumlah tokoh di Aceh. Menurut Jurubicara Partai Aceh wilayah Pase, Halim Abe, nama-nama petinggi partai itu yang dicatut seperti Muzakkir Manaf, Abu Razak, Ableh, dan sejumlah tokoh lainnya. Si pencatut menjadikan nama itu maop untuk meminta uang pada sejumlah orang. Ada yang berhasil. Ada pula yang gagal ditipu.
Sebegitu dahsyat dampak maop di nanggroe ini. Pertanyaannya, sudah tepatkah maop yang dipilih? Apakah maop itu akan menguntungkan banyak pihak-rakyat-untuk kemandirian ekonomi, stabilitas politik, dan publik Aceh?
Jangan sampai, maop yang dipilih dengan metoda mencatut layaknya penipuan tadi. Jika itu yang terjadi, maka maop takkan berarti. Maop takkan berdaya getar.
Sejatinya, kita harus berdiri di kaki sendiri. Menata sistem pemerintahan yang baik. Pelayanan prima dari aparatur negara menjadi keniscayaan. Sehingga, kita tak perlu memilih maop, mencari maop, dan meminta dukungan maop.[]
* Penulis berdomisili di Lhokseumawe





