Jumat, Juli 19, 2024

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...

JPU Tuntut Lima Terdakwa...

BANDA ACEH - Jaksa Penuntut Umum menuntut empat terdakwa perkara dugaan korupsi pada...

Abu Razak Temui Kapolda,...

BANDA ACEH – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh H. Kamaruddin...

Diterjang Badai, Lapak Pedagang...

ACEH UTARA - Banyak lapak pedagang dan warung di sepanjang jalan Simpang Rangkaya,...
BerandaMemulai Perjalanan Dengan...

Memulai Perjalanan Dengan Shalat Safar

Kehidupan manusia bertebaran di muka bumi  dengan berbeda suku dan bangsa sehingga melahirkan saling kenal mengenal dan kasih sayang serta terjalinnya hubungan yang baik diantara sesama. Hubungan tersebut sering kali harus berpisah dengan kampung halaman dan sanak famili.

Mereka yang cinta dengan silaturahmi, cinta persaudaran rela mengorbankan waktu dan kesempatan untuk melakukan musafir yang jauh bahkan berhari-hari. Islam sebagai agama yang universal, dalam hal ini menganjurkan kepada kita sebelum melaksanakan musafir untuk melakukan interaksi vertikal sebagai bentuk pengabdian untuk memohon diri agar musafir yang akan di jalani berkah dan terhindar dari  berbagai macam musibah dan hal lain yang tidak di inginkan serta menjadi musafir (perjalanan) yang di ridhai Allah Swt.

Implementasi bentuk hubungan vertikal itu dengan cara melakukan shalat sunat safar (perjalanan). Shalat sunat Safar merupakan shalat sunat yang dilakukan ketika akan melakukan sebuah perjalanan ( safar ). Biasanya shalat sunat ini dilakukan untuk perjalanan jauh seperti perjalanan yang jaraknya dua marhalah atau jarak yang bisa di lakukan jamak dan qasar.

Dalil Shalat Sunat Safar

Setiap ibadah yang telah di jelaskan oleh ulama sebagai warisatul Ambiya mempunyai pijakan dan referensinya. Pernah suatu hari, seseorang menanyakan kepada Imam Ahmad tentang hukum melakukan shalat sunat ketika safar. Beliau menjawab, “Aku harap melakukan shalat sunat ketika safar tidaklah masalah.” (Dinukil dari Zaadul Ma’ad, 1: 456)

Berdasarkan penjelasan diatas, menunjukkan bahwa shalat sunnah boleh dilakukan ketika safar. Memperkuat argumen diatas, terdapat sebuah hadist  dari  Ibnu ‘Umar ra, beliau berkata:”Sesungguhnya Rasulullah Saw pernah melaksanakan shalat sunat di atas kendaraannya menghadap ke arah kendaraan yang menujunya, beliau berisyarat dengan kepalanya.” Ibnu ‘Umar pun mengerjakannya “. (HR. Imam Bukhari no. 1105)

Dalam hadist baginda nabi juga menyuruh kita untuk melakukan dua rakaat sebelum berangkat, bunyi hadistnya: “Senadainya Dirimu keluar dari kediamanmu, maka kerjakanlah sembahyang dua rakaat sehingga dengan ini akan menghalangi engkau dari kejahatan yang berada di luar rumah. Seandainya engkau memasuki rumah kamu, maka kerjakanlah sembahyang dua rakaat yang akan mencegah engkau dari kejahatan yang akan masuk ke dalam rumah.” (HR. Al-Bazzar)

Metode Pelaksanaan.
 Shalat sunat Safar tersebut di lakukan dua rakaat dengan niatnya: Ushalli sunnatas safri rakaataini lillahi ta'ala (Aku niat shalat sunat safar karena Allah Yang Maha Tinggi). Di saat  hendak meninggalkan rumah atau berangkat, kita mengambil air wudhu dan memakai pakaian yang mau dipakai, setelah melaksanakan shalat safar sebanyak dua rakaat.

Sedangkan surat yang di baca pada rakaat pertama shalat sunat safar setelah Al-Fatihah dengan membaca surat Al-Kaafirun dan pada rakaat kedua sesudah Al-Fatihah  dianjurkan membaca surah Al-Ikhlas. Saat Shalat sudah diakhiri dengan memberi salam, dianjurkan membaca ayat kursi dan surah Al-Quraishy sebanyak satu kali dengan meniatkan menjadi pemelihara diri kita sendiri bersama rombongan, dan orang yang ditinggalkan serta menyerahkan diri, keluarga dan harta benda kepada Allah SWT.

Hal tersebut sebagaimana di ungkapkan oleh Imam Nawawi dalam karyanya “Al-Azkar”, berbunyi:” Seseorang yang membaca Ayat Kursi saat sebelum keluar dari rumahnya maka tidak akan tertimpa apapun yang tidak disenanginya hingga kembali ketempat semula. Sedangkan hikmah dari Surah Al-Quraisy ialah agar selamat dari segala kejahatan. (Kitab Al-Azkar, Imam Nawawi, h. 233)

Doa Safar dan Keluar Kediaman

Sesudah shalat sunat safar itu dilanjutkan dengan membaca doa safar, bunyinya:
 “Allahumma Inna Nas aluka Fi Safarina Hazal Birra Wat Taqwa Wa Minal 'Amali Ma Tadha. Allahumma Hawwin 'alaina Safarana Haza Wa Atu 'anna Bakdahu.
 Allahumma Antash shaibu Fi As-Safari wal Khalifatu fil Ahli.
 Allahumma Inni A'uzubika min Wa' tsai as-safri wa Kabatil Mandhari wa su'i al-Munqalabi Fil Maali wal ahli.

Kemudian di tambahi ketika Keluar dari kediaman dengan doa:
 Bismi AllahiTawakkaltu 'ala Allahi La Haula Wala Quwwata Illa Billahi al-'aliyyi al-'adhimi (Dengan nama Allah, saya berserah diri kepada Allah, tidak ada kemampuan dan dan kekuatan melainkan Allah yang Maha 'Ala (tinggi) dan Maha Agung).

Semoga perjalanan kita berkah dan diridhi oleh Allah SWT serta terhindar dari segala musibah dan perkara yang tidak di inginkan. Semoga.

Penulis: Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Pengajar Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Bireun dan Jamaah Tarekat Naqsyabandiah Aceh

Baca juga: