Karya: Taufik Sentana*
Seorang tak perlu menjadi penyair
untuk mencintai.
Ia cukup melihat mata anak kecil
yang bening sempurna.
Atau ia menatap lekat mekar bunga
dan pepohon yang berbuah muda. Apakah mencintai
hanya layak bagi sang sufi?
Padahal mencintai
adalah pekerjaan
yang tiada habisnya
dan tidak membutuhkan predikat kemanusiaan kita,
hanya hati tunduk
dan jiwa sederhana.
Pun aku ingin terus
mencintaimu tanpa jenuh,
tanpa gaduh.
Melintasi waktu sepi dan ramai
atau saat gemuruh dan angin sepoi. Hingga tiba waktu sampai,
batas semua landai,
dan semua menuju
pada Janji Yang Satu
Pelebur seluruh jenuh.[]
*Peminat sastra eksistensial.


