Sabtu, Juli 20, 2024

Peringati Haul Abati Banda...

LHOKSEUMAWE - Ratusan jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi'i Aceh menggelar pawai akbar dalam...

Pj. Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyerahkan bantuan masa panik secara simbolis...

Sekum PB PON Wilayah...

BANDA ACEH – Progres pembangunan beberapa venue untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI...

PT PIM Bantu Korban...

ACEH UTARA - PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) menyerahkan bantuan kepada korban badai...
BerandaMengaktualisasikan Esensi Haflah...

Mengaktualisasikan Esensi Haflah Maulid Nabi

Rabiul Awal tepat tanggal 12 merupakan sebuah memontum yang sangat bersejarah dalam dunia Islam. Namun satu hal yang perlu kita perhatikan, maulid nabi bukan hanya sebatas seremonial sebagaimana yang telah dipraktikkan secara turun menurun. Kita juga perlu introspeksi diri masing-masing dalam meneladani akhlak Rasulullah di setiap sendi kehidupan.

Nilai inilah yang perlu kita renungkan dalam setiap peringatan maulid Nabi Muhammad saw. Akhlak baginda nabi laksana Alquran berjalan. Begitu tinggi dan mulia akhlaknya. Akhlak Nabi Muhammad saw adalah cerminan Alquran. Bahkan beliau sendiri adalah sosok sempurna yang hadir di tengah-tengah umat manusia, membawa kabar gembira, menerangi kegelapan dengan membawa cahaya Islam.

Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah r.a tentang akhlak Rasulullah saw. Aisyah menjawab: “Akhlak Rasulullah SAW adalah Al Quran.” (HR Muslim). Sungguh, jawaban Aisyah ini singkat, namun sarat makna yang luar biasa. Sayyidatina Aisyah menyifati beliau dengan satu sifat yang dapat mewakili dan menghimpun seluruh sifat yang ada pada-Nya.

Tidak sedikit ayat Alquran yang menjelaskan tentang kepribadian tauladan yang sangat mulia pada sosok Rasulullah Saw. Di antaranya sebagaimana disebutkan dalam surat al-Ahzab ayat 21 berbunyi;Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah” (QS. Al-Maidah:21).

Berdasarkan ayat di atas bahwa dengan akhlak dan budi pekerti yang dimiliki oleh baginda nabi diharapkan semua umat manusia mampu mencontoh dan meneladaninya, sehingga terciptalah kehidupan umat Islam yang aman dan damai di negeri Indonesia tercinta ini serta dunia umumnya, karena pada hakikatnya nabi Muhammad diutus adalah sebagai rahmatan lil’alamin.

Dalam surat lain juga diungkapkan pembahasan tentang sosok kepribadian Rasulullah dengan bunyinya “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”(QS. Ali Imran:164).

Ayat di atas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw adalah pribadi yang penuh anugerah. Namun demikian, kini beliau sudah wafat dan tidak ada nabi setelah beliau. Agama ini telah sempurna dan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari ayat di atas, di antaranya pada ungkapan “Beliaulah yang membacakan ayat-ayat Allah”.

Pemahaman ayat ini menunjukkan bahwa kita diajak untuk merenung dan introspeksi diri dengan bertanya kepada pribadi masing-masing. Apakah kita ini termasuk orang-orang yang menerima ayat-ayat Allah yang telah dibacakan oleh baginda Rasulullah saw atau tidak?

Masyarakat yang hidup di zaman modern dan era globalisasi ini terutama generasi muda sang penerus estafet agama masih banyak yang tidak berbangga kepada Nabi Muhammad saw. Mereka masih lebih mengidolakan tokoh-tokoh barat, para artis dan sejenisnya yang jauh dari nilai Islam dan berakhlakul karimah.

Mereka yang suka lagu India akan mengidolakan aktor-aktor dan penyanyi-penyanyi India. Begitu juga halnya yang terjadi terhadap pengidolaan tokoh yang jauh dari nilai-nilai tauladan dan syariat Islam. Prilaku dan akhlak kitapun semakin jauh dari kepribadian beliau, terkadang kita orang yang menyeru kepada kebaikan dalam berbagai dimensi dan strata yang berbeda, hanya pandai menyeru dan mendakwahkan lewat lisanaul maqal (perkataan) tetapi kurang dalam lisanul hal (perbuatan). Alhasil dakwah menjadi kurang efektif, karenanya nilai dan metode dakwah rasul menjadi solusi apalagi dengan momentum maulid ini.[]

Baca juga: