BANDA ACEH – Tim peneliti Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) meminta pemerintah untuk segera melestarikan Gua Ek Leuntie yang diterjang tsunami di kawasan Meunasah Lhok, Kecamatan Lhong, Kabupaten Aceh Besar. Hal tersebut disampaikan Nazli Ismail, Ph.D., selaku peneliti Unsyiah dalam siaran pers yang dikirimkan Humas Universitas Syiah Kuala kepada portalsatu.com, Selasa, 1 Agustus 2017.

Nazli menyebutkan, Gua Ek Leuntie yang berada di pesisir pantai itu menyimpan bukti tsunami selama 7.400 tahun yang lalu sehingga harus dilestarikan dan patut dijadikan sebagai museum alam. Hasil temuan Unsyiah dengan Nanyang Technological University (NTU) Singapura ini berhasil mengidentifikasi lapisan-lapisan pasir yang mengendap akibat tsunami ribuan tahun lalu.

“Misteri kedahsyatan tsunami tahun 2004 di Aceh mulai terpecahkan melalui temuan besar ini dan sudah dipublikasikan di Nature Communications,” katanya.

Disebutkan, Aceh tidak terlepas dari ancaman gempa karena berada di zona megathrust yang membentang di sebelah barat lepas Pantai Sumatera. Selama ini sudah banyak gempa yang terjadi di Aceh, dan di antaranya berpotensi tsunami. Maka kajian gua tsunami Aceh ini memberikan gambaran yang sangat penting tentang perulangan bahaya tsunami di sepanjang zona megathrust.

“Informasi-informasi semacam ini akan sangat bermanfaat untuk membantu pengurangan risiko bencana, khususnya bagi masyarakat Aceh yang umumnya mendiami wilayah pesisir,” ungkapnya.

Menurutnya, sangat sulit memprediksi secara tepat kejadian tsunami besar berikutnya setelah 2004 sebab periode kejadian tsunami di masa lalu juga tidak beraturan. Jadi, kata dia, pemerintah juga perlu meningkatkan upaya penyadaran masyarakat terhadap ancaman bahaya tsunami melalui pendidikan.

“Gua Ek Leuntie merupakan situs yang dapat dijadikan tempat pembelajaran tentang kebencanaan dan Unsyiah berharap keberadaan gua tsunami tersebut dapat dilestarikan,” katanya.

Berdasarkan hasil amatan peneliti, telah terjadi kegiatan penambangan batu secara masif di sekitar gua tersebut pada 2016. Batu-batu gajah yang ditambang dari gua tersebut digunakan untuk pembangunan dermaga di Kabupaten Nagan Raya. Pada saat itu, penambangan hampir merambah sampai beberapa meter dari gua. Jika dilakukan secara terus-menerus, menurutnya, penambangan ini dapat mengancam keutuhan gua sehingga mengancam akan hilangnya informasi berharga tentang rekaman tsunami purba yang berumur ribuan tahun tersebut.

Sebelumnya, dalam jumpa pers yang dilaksanakan di Balai Senat KPA Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh, Senin, 31 Juli 2017, Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng., menyampaikan, Unsyiah mendesak semua pihak untuk menyelamatkan situs Gua Ek Leuntie. Menurutnya, masyarakat gampông setempat bersama Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, Badan Penanggulangan Bencana Aceh, dan Kemristekdikti perlu menetapkan gua ini sebagai situs cagar tsunami purba yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Kemudian menjadikan situs gua sebagai fasilitas pendidikan dan penelitian lapangan mengenai tsunami purba dan sarana penyadaran akan pentingnya kesiapsiagaan bencana di Aceh.

“Gua Ek Leuntie sangat berpotensi untuk menjadi tujuan pariwisata dan Unsyiah siap membantu pemerintah untuk pelestarian gua tersebut,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Hermann M. Fritz dari The Georgia Institute of Technology Amerika Serikat mengungkapkan, kejadian tsunami 2004 di Aceh berdampak luas ke berbagai negara. Namun, semua negara yang terkena dampak tidak menggunakan peringatan dini sehingga banyak korban jiwa berjatuhan.

“Maka sudah seharusnya kita belajar dari sejarah dan pengalaman dengan meningkatkan infrastruktur peringatan dini dan perangkat komunikasi untuk mengurangi risiko bencana,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat memasukkan pendidikan bencana ke dalam kurikulum sekolah-sekolah. Selain itu, perlu adanya upaya simulasi penanganan bencana secara rutin untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang proses evakuasi ketika bencana terjadi.[] (*sar)