Pirates of the Caribbean telah menjadi sumber kekaguman selama lebih 300 tahun, selain juga memperlihatkan kecemasan terhadap masyarakat modern, tulis Roger Luckhurst.

Film-film The Pirates of the Caribbean telah menghasilkan lebih US$4 miliar atau Rp53 triliun dari pemutaran di dunia.

Film kelima dan yang terbaru Dead Men Tell No Tales masih diputar di bioskop. Bahkan jika kita tidak lagi melihat Johnny Depp sebagai Captain Jack Sparrow, penonton di dunia tetap tertarik pada dongeng bajak laut abad ke-18.

'International Talk Like a Pirate Day' diadakan sejak 19 September 2002. Tetapi mengapa? Mengapa kita takut terhadap perompakan modern di jalur perkapalan lepas pantai Afrika Timur, tetapi menikmati kekerasan dan pencurian perompak seperti Blackbeard, 'Calico' Jack Rackham dan 'Black Bart' Roberts di tahun 1720-an?

Sebagian jawabannya ada pada 200 tahun kebudayaan populer yang meromantisir tokoh pelanggar hukum.

Alasan yang lebih dalam? Hubungan ambigu kita terhadap munculnya negara biroktatis modern di mana tingkah laku sangat diatur, sehingga kebebasan para perompak menjadi sangat menarik, sama dengan pandangan kita terhadap penjahat Barat, gangster zaman pelarangan alkohol, ksatria abad pertengahan dan bahkan penyelundup angkasa luar, Han Solo, juga memiliki daya tarik yang sama.

Masa keemasan di tahun 1690

Tanpa menyadarinya banyak tokoh ini mirip dengan tema asli Pirates of the Caribbean produksi Disney: “Yo ho, yo ho! A pirate's life for me.”(saya hidup untuk menjadi perompak).

'Masa keemasan' perompakan Karibia dan Atlantik dimulai pada sekitar tahun 1690 sampai ke hukuman mati Blackbeard di tahun 1718 dan Black Bart pada 1722.

Era ini terjadi karena diterapkannya hukum kelautan. Saat itu, negara-negara yang berperang dapat menyatakan kapten kapal sebagai 'pihak swasta'. Mereka memiliki 'surat izin' untuk menyerang kapal musuh selama mereka memberikan sebagian barang hasil perompakan ke pemerintah mereka.

Istilah 'buccaneer' terutama mengacu kepada kapal Inggris, Belanda dan Perancis yang memangsa kapal saingannya dari Spanyol.

Bersama-sama dengan angkatan laut resmi, aksi mereka dapat diterima. Pemerintahan kerajaan bergantung pada orang-orang di luar kekuasaan mereka, di mana keabsahan hukum dan penolakan mereka terhadap hal-hal resmi dapat menjadi sangat berguna.

Masalah timbul ketika persekutuan berubah ketika perdamaian tercapai.

Captain Kidd keluar masuk Angkatan Laut Inggris dan sebagai preman ilegal, dikejar-kejar di Samura Atlantik karena kejahatan yang dilakukan. Dia akhirnya dihukum pihak Inggris pada tahun 1701.

Setelah ditandatanganinya Treaty of Utrecht di tahun 1713, ribuan kapten perompak dan awaknya kehilangan pekerjaan kecuali mereka kembali ke Angkatan Laut atau bisnis perkapalan.

Kapten kapal seperti Edward Teach sekarang berseberangan hukum, dan kemudian menjadi Blackbeard yang melegenda. Perdagangan ini menjamur di lepas pantai Afrika dan Karibia, kepulauan yang menjadi kaya karena perkebunan budak, tetapi dijadikan daerah jajahan oleh penguasa Eropa yang saling bersaing, sehingga penegak hukum di laut selalu lemah.

Awak terakhir Masa Keemasan diburu angkatan laut resmi dan dihukum pada tahun 1720-an.

Meskipun demikian perang menyebabkan perompakan muncul kembali. Ketika Perang Napoleon akan berakhir, muncul para perompak, terutama di lepas pantai Amerika Latin, di mana perompak seperti Benito de Soto menjadi dikenal dunia setelah diadili dan dihukum pada tahun 1830.

Kegiatan perompak di lepas pantai Somalia memuncak pada tahun 2003 karena absennya pemerintah pusat yang kuat, kekosongan kekuasaan ini dipakai oleh para pemimpin perang setempat. Perompakan menurun sejak kerja sama dunia menegaskan kebijakan jalur laut yang lebih tegas.

Mencatat legenda

Mudah untuk melacak bagaimana perompak menjadi legenda populer. Begitu Masa Keemasan akan berakhir, Captain Charles Johnson (nama palsu) menerbitkan riwayat hidup tokoh-tokoh terkenal ini, berjudul A General History of the Robberies and Murders of the Most Notorious Pyrates (1724).

Buku ini penuh dengan rincian berdarah, ditulis dengan bersemangat, dan mencatat legenda Black Beard, Black Bart dan sejumlah tokoh lainnya.

Pamflet-pamflet merinci kejahatan berat dan hukuman setimpal dari penjahat legendaris tersebut laku dibaca sejak mulai dicetak dan perompak menjadi subjek populer di permulaan abad ke-18.

Penulis Daniel Defoe menulis sejumlah pamflet tentang perompak pada masa yang sama dengan ketika dia menyelesaikan cerita terkenal tentang kapal terdampar, Robinson Crusoe(1719).

Buku Johnson menjadi bintang dan edisi kedua dengan isi yang lebih berwarna terbit tahun 1728.>>>Baca selengkapnya di BBC.com