Saat ini kita sedang berada di bulan Rabiul Awal, merupakan bulan dilahirkan baginda Nabi Muhammad saw. Selanjutnya kita akan bertanya kenapa sih bulan Rabiul Awal? Mengapa tidak dilahirkan di bulan lain seperti Ramadan, di mana Allah Swt menurunkan Alquran dan dihiasi dengan Lailatul Qadar?

Juga kita akan bertanya lagi kenapa tidak saja salah satu dari bulan-bulan haram lainnya seperti Zulhijjah, Zulqadah, Muharram atau Rajab (Asyhur Alhurum) yang telah diagungkan oleh Allah Swt, dimana di situ diciptakan langit dan juga bumi? Atau di bulan Sya’ban di mana di situ terletak malam Nishfu Syakban? Mengapa dilahirkan di hari Senin bulan Rabiul Awal?

Bahkan juga akan bertanya juga kenapa lahirnya Rasulullah saw di hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal, tidak pada tujuh atau 17 Ramadan. Lantas apakah itu sebuah kebetulan atau tanpa hikmah?

Beranjak dari itu kita akan mengkajinya di balik hikmah penetapan tersebut. Di balik itu kita berharap akan menambah   kecintaannya kepada beliau. Di antara jawabannya sebagai hikmah adalah:

Pertama: di sebuah hadis disebutkan bahwa “Allah Swt menciptakan pepohonan di hari Senin”. Hadis ini merupakan peringatan yang sangat mulia bagi umat Islam yaitu bahwa: ”Allah menciptakan bahan makanan, rizki, buah-buahan dan kebaikan-kebaikan yang dengan itu anak Adam berkembang biak dan bertahan hidup, serta membuat hatinya senang melihatnya, adalah agar mereka lega dan tenang untuk mendapatkan sesuatu yang membuatnya hidup sesuai dengan hikmah Allah Swt.

Maka dengan lahirnya Rasulullah saw di hari itu, itu adalah sebagai keceriaan dan kebahagian untuk semua (Qurratui ‘uyun), dan tidak diragukan lagi bahwa hari Senin adalah hari yang penuh berkah dan menjadi berkah karena kelahiran seorang Rasul yang mulia. Beliau telah ditanya tentang hari ini kemudian menjawab: “Hari itu adalah hari di mana aku dilahirkan”.

Kedua: lahirnya Rasulullah saw di bulan Rabi’ merupakan isyarat yang sangat jelas bagi orang yang cerdas dan mengerti tentang asal mula kalimat Rabi', yaitu bahwa dalam kalimat tersebut terdapat makna optimis atas datangnya sang pembawa kabar gembira bagi umatnya.

Syeikh Abdur-rahman As-shaqli mengatakan: “Setiap nama seseorang mempunyai peran dalam kehidupannya, baik dalam segi perorangan atau yang lain. Di Fashl Arrabi’ Bumi mengeluarkan semua isinya dari berbagai nikmat-nikmat Allah Swt serta rizki-rizki-Nya yang di situ terdapat kemaslahatan seorang hamba, dan dengan itu seorang hamba bisa bertahan hidup, serta di situlah kehidupan mereka berlangsung.

Tentunya dengan demikian terbelahlah biji-bijian, serta berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang telah ditentukan di situ, sehingga orang yang memandangnya menjadi senang dan ke’ada’annya-lah yang memberikan kabar gembira akan kedatangan waktu masak dan memetiknya. Di sini terdapat isyarat yang sangat agung atas mulainya berbagai nikmat Allah Swt”.

Maka kelahiran Nabi Muhammad saw di bulan ini adalah sebagai isyarat yang sangat nyata dari sang pencipta agar kita mengagungkan dan memujinya karena ketinggian martabat Rasul saw. Di mana beliau adalah sebagai pembawa kabar gembira bagi semua yang ada di alam semesta, serta rahmat bagi mereka dari berbagai kehancuran dan ketakutan di dunia dan di akhirat.

Sebagian dari Rahmat Allah Swt yang paling agung yaitu anugerah Allah Swt kepada Rasulullah saw untuk memberikan hidayah bagi umat Islam menuju jalan yang lurus. Sebagaimana dalam firman Allah Swt: “Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura: 52).[]