Ketiga: Kekeliruan itu juga terjadi karena adanya beberapa orang yang dianggap sebagai tokoh agama malah membela mati-matian dunia klenik dan perdukunan.

Keempat: Hal itu juga terjadi karena kurang sabar dalam menerima ujian kemiskinan sehingga ingin hasil secara instan dan cepat saji.

Kelima: Selain itu, penyababnya karena banyak kalangan pebisnis dan elite politik yang memanfaatkan jasa dukun untuk kelancaran usaha dan politiknya, sehingga mereka menjadi panutan orang-orang awam untuk mendatangi para dukun karena ngiler dengan kesuksesan dan keberhasilan mereka.

Keenam: Jalan pintas untuk meraih kesuksesan ini dianggap paling mudah dan ringan, apalagi setelah melihat banyak bukti dan beragam cerita dari orang-orang yang berhasil dalam waktu yang singkat dengan memanfaatkan jasa dukun.

Ketujuh: Tidak ada sanksi tegas bahkan terkesan membiarkan bahkan cenderung mendukung praktik perdukunan.Tidak ada sanksi tegas dan hukuman yang jelas buat mereka yang menyesatkan umat lewat dunia klenik dan perdukunan.

Kedelapan: Karena salah kaprah dalam memandang sosok dukun. Mereka menjadikan orang pintar alias paranormal sebagai tempat bertanya dan mencurahkan keluh kesah dan tempat bersandar serta bergantungnya layaknya seperti Tuhan, padahal tidak ada yang mampu memberikan manfaat dan mudarat atau mengubah nasib kecuali hanya Allah semata.

Kesembilan: Mayoritas masyarakat lebih percaya kepada wejangan dan titah dukun ketimbang para ulama yang memahami Al-Qur‘an dan as-Sunnah. Orang ingin cepat mendapat jodoh, sembuh dari penyakit, cepat kaya, naik pangkat, semuanya datang kepada dukun.

Mereka mengaggap dukun seolah-olah para dukun adalah manusia serba bisa dan serba mampu mengatasi masalah. “Semua itu mereka menganggap sebagai ikhtiar (usaha dan upaya), sehingga sering mereka menggunakan trik “Ini ‘kan hanya ikhtiar, yang menentukan kan- Tuhan”. Sebuah trik yang sangat efisien untuk memperdayai orang-orang yang tak mengerti,” katanya.[]tla

Baca Juga: Mualaf New York di Spanyol: Ya, saya Maria Ibundanya Jesus