Diperkirakan ada lebih dari 20 juta muslim yang bermukim di Rusia. Pada dasarnya, mereka merupakan etnis muslim, seperti Tatar, Chechnya, Dagestan, Bashkiri, dan lain-lain. Namun, ada pula yang merupakan pemeluk Islam baru, yaitu orang-orang yang secara sadar memutuskan untuk memeluk agama Islam. Berikut cerita dari tiga perempuan Rusia yang memutuskan untuk menjadi seorang muslim seperti dilansir media Rusia rbth.com:
Valeria (22), masuk Islam lima tahun yang lalu

Islam selalu menarik bagi saya sejak kecil. Ketertarikan tersebut kemudian semakin kuat seiring dengan bertambahnya usia saya. Di kampus, saya mempelajari dasar-dasar agama Islam dan bahasa Arab. Saya juga memiliki banyak teman-teman muslim yang memiliki berbagai pandangan yang berbeda mengenai kehidupan, satu hal yang tidak biasa di lingkungan saya.
Tradisi Islam bagi saya semuanya jelas, benar dan logis. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk memeluk Islam. Orangtua dan teman-teman dekat saya dapat mengerti keputusan saya, bahkan mereka siap membantu saya.
Dalam keseharian saya, saya tidak mengenakan jilbab (hanya mengenakan mukena atau pakaian tertutup saat salat -red.). Saya berpendapat bahwa bagi seorang muslim (baik lelaki maupun perempuan) penting untuk berpakaian dan berperilaku sopan. Pada awalnya sulit, tapi sekitar tiga tahun kemudian saya sudah terbiasa.
Banyak yang percaya bahwa Islam adalah agama yang kaku. Saya tidak setuju dengan pendapat tersebut. Semua perintah Tuhan didasari oleh rasa cinta kasih yang besar terhadap sesama manusia. Sayangnya, banyak yang tidak mengerti, mereka tidak menyadari pentingnya hal tersebut, mereka memiliki stereotipe dan tidak ingin mengetahui lebih jauh, dan hal ini berlaku tidak hanya untuk Islam.
Stereotipe mengenai Islam sangat banyak. Misalnya, umat Islam adalah orang-orang yang menyukai kekerasan, mereka membunuh orang kafir, menyembelih hewan-hewan yang malang, memukul istri sendiri, tidak mau menerima orang luar. Alasan atas sikap tersebut adalah kurangnya pengetahuan dan keinginan untuk tahu lebih dalam. Jika Anda tidak memahami sesuatu atau takut, seharusnya Anda cari tahu, apakah ketakutan tersebut terbukti? Kebanyakan dari mereka hilang dengan meningkatnya kesadaran dan komunikasi antarperwakilan agama.
Saya menyebut Islam sebagai agama yang paling demokratis, yaitu dengan menggunakan pendekatan ke dalam diri seseorang, tradisi spiritual yang difokuskan pada realitas manusia dengan segala ketidaksempurnaan dan keterbatasannya.
Zainab (Elena) (55), masuk Islam 15 tahun yang lalu

Hal ini terjadi di akhir tahun 90-an. Saat itu, saya dan suami saya melakukan perjalanan ke Mesir untuk berwisata, dan untuk pertama kalinya saya mengunjungi negara Islam. Saya melihat orang-orang dengan mentalitas dan pandangannya terhadap hidup yang berbeda dari apa yang saya percayai. Dengan menyaksikan langsung budaya ini, saya menjadi sangat tertarik dengan topik Timur Arab. Sejak itu, saya mulai mempelajari Al-Quran.
Dalam waktu yang lama, tak langsung terpikirkan oleh saya untuk memeluk agama Islam. Bagi saya kala itu, perempuan muslim hanya dapat berurusan dengan dapur dan keluarga saja, sedangkan saya sangat menyukai olahraga ekstrem dan memiliki kehidupan yang sangat aktif. Namun, tak berapa lama saya menyadari bahwa Islam sangat fleksibel: Islam mengizinkan perempuan untuk menjadi wanita bisnis, ibu rumah tangga, bahkan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan ilmiah, serta berbagai profesi lainnya.
Ketika saya berusia 40 tahun, saya menyampaikan kepada suami saya tentang keputusan saya untuk memeluk Islam. Anak-anak dan suami saya mengerti dan merespon dengan tenang keputusan saya tersebut. Namun, sempat terjadi masalah dengan ibu saya. Pada dasarnya, ia mempermasalahkan mengenai jilbab. Namun, semuanya dapat diselesaikan dengan baik dan kini bahkan ibu saya suka membelikan saya makanan halal. Empat tahun kemudian, putri sulung saya ikut memeluk Islam.

