Dalam bahasa Indonesia, kata baca bila dilekatkan imbuhan meN- menjadi membaca, begitu pula dengan bakar, beberkan, besarkan yang masing-masingnya menjadi membakar, membeber, dan membesarkan.
Hal yang sama juga berlaku bila kata-kata tersebut dilekati imbuhan peN. Maka, kata baca, besar, bakar, misalnya, menjadi pembaca, pembesar, dan pembakar.
Tak ada variasi pemakaiannya untuk dua kasus tersebut. Namun, masalah kemudian timbul ketika kedua imbuhan itu dilekatkan pada kata seperti bom. Untuk hal ini, ada dua variasi penulisannya, yaitu membom dan mengebom, pembom dan pengebom.
Karena adanya dua variasi, pertanyaan yang timbul kemudian adalah manakah yang benar?
Ditilik secara bahasa, ada aturan tentang pemakaian imbuhan meN- dan peN-. Kedua imbuhan ini menjadi mem- dan pem- bila dilekatkan pada kata yang diawali bunyi /b/. Jadi, benarlah bila baca atau bakar menjadi membaca, pembaca, membakar, pembakar.
Meski demikian, ada pengecualian untuk kaidah itu, yaitu bila kata yang dilekati oleh kedua imbuhan tersebut bersuku satu, meN- dan peN- menjadi menge- dan penge-.
Yang dimaksud dengan bersuku satu adalah adanya satu puncak kenyaringan pada sebuah kata yang ditandai oleh kehadiran vokal dalam setiap puncak kenyaringan. Baca dikatakan bersuku dua sebab ada dua puncak kenyaringan, yaitu ba-ca, begitu pula menjelaskan disebut bersuku empat sebab ketika dibaca men-je-las-kan.
Atas dasar itu, membom dan pembom merupakan bentuk yang salah sebab bom bersuku satu. Maka, bentuk yang benar adalah mengebom dan pengebom. Aturan ini berlaku pula untuk setiap kata bersuku satu, misalnya cat, las, mbek yang masing-masing menjadi mengecat, mengelas, dan mengembek.[]

