Salah satu hadis tentang kelebihan shalawat (selawat) yang disebutkan dari Ubayy bin Ka’ab r.a., ia berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh saya memperbanyak bershalawat atas engkau. Lantas berapa dari shalawatku itu yang saya jadikan untuk engkau?”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Terserah kamu”. 

Ubayy bertanya: “Seperempat?”

Rasulullah bersabda: “Terserah kamu, bila kamu menambahnya maka itu lebih baik”.

Ubayy bertanya lagi: “Separuh?”

Rasulullah bersabda: “Terserah kamu, bila kamu menambahnya maka itu lebih baik”.

Ubayy berkata: “Saya menjadikan seluruh shalawat saya untuk engkau”.

Rasulullah bersabda: “… Jika begitu maka kamu dicukupi keinginanmu dan diampuni dosamu”. (HR Turmudzi)

Dalam hal ini, Imam Nawawi menjelaskan, maksud ungkapan (sungguh saya memperbanyak bershalawat atas engkau. Lantas berapa dari shalawatku itu yang saya jadikan untuk engkau?) adalah, “Saya memperbanyak berdoa maka berapa banyak saya harus bershalawat  atas engkau dalam doa saya?”

Sementara itu Abu Laits As Samarkand rahimahullah mengatakan, andai dalam berselawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak ada pahala sama sekali kecuali mengharapkan syafaat maka wajib bagi orang berakal untuk tidak melupakannya. Apalagi dalam berselawat ada ampunan dosa-dosa.

Abu Laits melanjutkan, jika ingin mengetahui bahwa berselawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah ibadah yang paling utama maka renungkanlah firman Allah, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.(QS al Ahzab:56)

Seluruh ibadah telah Allah perintahkan kepada para hamba-Nya. Sementara selawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam maka sungguh diri-Nya telah berselawat dan kemudian memerintahkan orang beriman agar mereka berselawat atasnya. Ini menetapkan bahwa selawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah ibadah yang paling utama

Imam Nawawi berkata: [Jika seseorang bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam maka hendaknya menggabungkannya dengan ucapan salam (Taslim) dan tidak hanya menyebutkan salah satunya]. Imam al Ghazali menceritakan: [Pernah aku menulis sebuah hadist dan sekaligus bershalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasallam, tetapi tidak mengucapkan salam. Maka aku bermimpi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Beliau bersabda kepadaku, “Kenapa tidak kamu sempurnakan bershalawat atasku dalam kitabmu?” Maka mulai setelah itu tidak kutulis shalawat kecuali menyertakan salam]

Imam Nawawi berkata: “Disunnahkan bagi pembaca hadits atau lainnya yang semakna, jika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebut agar mengeraskan suara bacaan shalawat dan salam atas Beliau  dan jangan sampai mengeraskan dengan suara yang terlalu keras sehingga terkesan jelek. Di antara tokoh yang menyatakan dan menganjurkan mengeraskan suara ini adalah al Imam al A’zham al Hafizh Abu Bakar al Khathib al Baghdadi serta juga para tokoh ulama yang lain”.

Abu Bayan al Ashfihani berkata: “Aku bermimpi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bertanya kepada Beliau: “Kenapa engkau tidak memberikan manfaat kepada anak pamanmu As Syafi’i dengan sesuatu atau mengistimewakannya dengan sesuatu?” Beliau bersabda: “Ia, aku memohon kepada Tuhanku agar tidak menghisabnya”. Aku bertanya: “Sebab apa?” Beliau bersbda: “Sebab ia telah bershalawat kepadaku dengan shalawat yang belum pernah aku mendapat shalawat seperti itu”. Aku bertanya: “Apakah itu?” Beliau bersabda: “Ia (Syafii) mengucapkan: “Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad selama orang-orang yang ingat menyebutnya dan selama orang-orang yang lupa lalai dari menyebutnya”.

Ibnu Abdul Hakam berkata: “Dalam mimpi aku melihat Syafi’i dan bertanya: “Apakah yang dilakukan Allah kepadamu?” Ia menjawab: “Dia memberiku nikmat dan mengampuniku dan dan aku diarak di surga layaknya pengantin diarak serta ditaburkan atasku seperti halnya ditaburkan atas pengantin”. Aku (Ibnu Abdil Hakam) bertanya: “Dengan apakah kamu menggapai derajat ini?” Ia menjawab: “Sebab ucapanku dalam kitab Ar Risalah;“Dan semoga Allah bershalawat atas Muhammad sesuai bilangan orang pengingatan orang-orang yang ingat dan sesuai bilangan kelalaian orang-orang yang lupa mengingatnya”.

Beranjak dari itu mari kita perbanyak berselawat di bulan Syakban yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Semoga keberkahan dan keridhaan Allah swt., menghampiri kita. Semoga![]