Kita telah sepakat bahwa jenjang sekolah dasar terhitung sejak awal SD hingga SMP. Priode sembilan tahun itu menjadi tonggak perkembangan formal belajar siswa.

Belakangan banyak yang mempertimbangkan kembali bahwa priode SD yang enam tahun ini dianggap sangat panjang dan rentan terhadap formalitas belajar, yang berdampak pada kreativitas dan pembiasaan sikap. Kenapa? karena dengan pola yang sekarang,kental sekali kognitivitasnya, tuntutan akademik murni. Maka banyak setingkat TK yang mesti mengadakan less baca tulis untuk persiapan SD.

Untuk itu, priode enam tahun di SD tadi, bisa dipangkas hingga hanya perlu dijalani selama tiga tahun saja. Waktu sisanya bisa dimanfaatkan untuk jenjang selanjutnya atau untuk menguasai kecakapan khusus dan  basic pengembangan diri.

Hal ini sejalan dengan pandangan Kak Seto, misalnya, bahwa waktu belajar anak yang enam hari itu (utama di SD dan SMP)juga perlu dipangkas menjadi tiga hari saja. Selebihnya untuk optimalisasi skill dasar atau semacamnya. Ia membandingkan lewat dua tipe sekolah yang telah ia terapkan. Menurutnya, siswa yang bersekolah tiga hari berkorelasi positif terhadap capaian umum siswa seusia mereka.

Dari sini kita perlu melihat prioritas dalam pendidikan sekolah dasar. Terutama ditinjau dari sudut masa depan anak dan persepsi orangtua. Bila bersasarkan pola pemerintah maka akan tampak stagnan, seperti yang kita lihat sekarang, sekolah hanya menjadi “beban belajar” dengan sedikit gairah. Bila sekiranya para siswa boleh memilih, mungkin saja mereka memilih untuk tidak sekolah. 

Sekolah kita termasuk dalam kategori sekolah dengan kepadatan jam belajar yang parah dengan ragam disiplin ilmu yang bahkan tumpang tindih dari jenjang satu ke jenjang lainnya. Ini menandakan bahwa kita sangat dangkal dalam mempersepsi prioritas di sekolah dasar (termasuk SMP).

Dalam kultur klasik Islam misalnya, pen didikan dasar berisikan materi Akhlak, fiqih/Akidah, Alquran dan Hadis serta keterampilan teknis/sains. Termasuk membaca, menulis dan berhitung. Bahkan, semua materi itu bisa dipadukan dalam tema belajar Alquran dan Hadis. Selebihnya keterampilan sains dan teknis.

Tentu sangat sulit mendapatkan sekolah dengan prioritas yang penulis gambarkan. Tapi beberapa komunitas telah banyak terbentuk, katakanlah seperti model Kuttab, sekolah mandiri, kelas Tahfizh Anak dan sejenisnya. Sedangkan legal formalnya dengan mengambil program paket belajar di dinas pendidikan. Kesemua itu berdasarkan pada apa yang menjadi prioritas saat anak masuk dalam fase belajar di sekolah dasar hingga SMP.
Tanpa menilik ini, sia sialah masa keemasan awal mereka dalam pendidikan formal.[]

Taufik Sentana
Praktisi Pendidikan Islam. Bergiat sejak 1996.