JATINANGOR — Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Republik Indonesia Prof Moh Nasir mengatakan, kualitas perguruan tinggi di Indonesia harus semakin baik. Hal ini, guna menghadapi tantangan bangsa yang semakin kompleks. 

Apalagi, saat ini, total jumlah perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia mencapai 4.350 dengan total jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa. Angka ini melebihi jumlah total perguruan tinggi di Tiongkok, yaitu sekitar 2.824 dengan total penduduk 1,4 miliar. “Ini berarti Indonesia punya kesempatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi,” katanya saat memberikan orasi ilmiah dalam acara peringatan Dies Natalis ke-59 Universitas Padjadjaran di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Jl Dipati Ukur, Bandung, Rabu (14/9). 

Dalam kesempatan tersebut, Prof Nasir membacakan orasi ilmiah bertajuk “Transformasi Perguruan Tinggi dan Daya Saing Bangsa”. “Kita akan berhadapan dengan perguruan tinggi di luar negeri. Kita tidak usah mengejar menjadi yang pertama, tetapi harus menjadi yang terbaik,” ujar Nasir seperti dilansirlaman: unpad.ac.id.

Dikatakan Nasir, salah satu target pemerintah terhadap perguruan tinggi adalah masuk 500 besar perguruan tinggi terbaik dunia. Karena itu, guna mewujudkan hal tersebut, manajemen pengelolaan perguruan tinggi harus diubah. Kemristek sendiri, kata Prof. Nasir, telah menyiapkan berbagai regulasi untuk peningkatan kualitas perguruan tinggi.

“Regulasi yang dilakukan untuk perbaikan, sehingga mendorong perguruan tinggi Indonesia punya fleksibilitas baik. Baik fleksibilitas dalam otonomi akademik, maupun nonakademik,” imbuhnya.

Nasir mencontohkan, dalam upaya mewujudkan world class university, Kemristekdikti telah mulai mengeluarkan berbagai regulasi terkait pendidikan mahasiswa asing. Regulasi ini menggambarkan perguruan tinggi Indonesia bisa menerima mahasiswa asing dengan sepenuhnya, sehingga jumlah mahasiswa asing yang belajar di Indonesia akan semakin banyak.

Upaya lain dalam mewujudkan target tersebut ialah meningkatkan jumlah publikasi ilmiah internasional. Pihaknya juga mendorong penguatan riset bukan lagi berbasis proses, tapi harus berbasis output.

Nasir juga mendorong para civitas academica Unpad untuk meningkatkan aktivitas riset berbasis output. Berbagai manuskrip riset yang disimpan di perpustakaan bisa dikembangkan lebih lanjut untuk menghasilkan inovasi.

Kemristekdikti sendiri juga menyiapkan insentif bagi peneliti yang memublikasikan penelitian ilmiahnya, baik di jurnal nasional tidak terakreditasi, jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional yang tidak bereputasi, hingga jurnal internasional bereputasi.

Dia juga menyampaikan kekuatan Unpad sebagai PTN berbadan hukum. Melalui PTN Badan Hukum, kata dia, pemerintah memberikan keleluasaan perguruan tinggi melakukan kreasi untuk mengelola aktivitas secara mandiri. Ini didasarkan pada terbatasnya jumlah anggaran negara untuk pengelolaan perguruan tinggi.

Untuk itu, Nasir mendorong rektor PTN berstatus badan hukum, termasuk Unpad, bukan hanya sebagai pemimpin lembaga akademik, tapi juga bertugas sebagai CEO untuk mampu menjalankan suatu organisasi besar secara berkelanjutan. “Rektor tidak lagi berpikir akademik saja, tapi bagaimana caranya menjalankan usaha untuk mendapatkan uang dan meningkatkan kualitas. Majelis Wali Amanat, pandangan kita sebagai Komisarisnya,” kata Nasir.

Walaupun dituntut menghasilkan pendapatan secara mandiri, tapi Nasir menekankan Unpad tidak dituntut untuk memperoleh jumlah penghasilan tertentu. “Yang terpenting adalah targetkan untuk bisa masuk 500 perguruan tinggi dunia,” ucapnya.[]sumber:Republika