BERITA itu sangat mengejutkan. Nasional dan internasional ikut heboh. Isi berita itu cukup singkat, yakni Panglima Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) Teungku Abdullah Syafiie dalam kondisi sekarat. Kakinya kena tembak. Tentu saja info tersebut perlu dicek ulang. Maklum tidak ada foto yang membuktikan orang nomor satu di kalangan militer GAM itu dalam kondisi sekarat.
Saya pun menghubungi orang kepercayaan Panglima AGAM untuk membuktikan, apakah benar Teungku Lah–sapaan akrab Teungku Abdullah Syafiie–dalam kondisi luka parah di kaki? Setelah melalui berbagai usaha merayu, saya disuruh menunggu di sisi jalan Teupin Raya, Kabupaten Pidie (sekarang Kabupaten Pidie Jaya).
Sejak pukul 8.30 WIB, saya sudah menanti di sebuah dayah yang bersebelahan dengan masjid. Jarum jam terus berputar hingga azan Zuhur bergema. Belum ada kepastian. Penghubung saya, masih terus mengontak ke atas. Kabar baik pun mencuat saat Ashar.
Ayo kita berangkat, pinta Teungku Jecky.
Saya pun mengenakan topi haji, berkain sarung dengan menenteng satu kantong plastik hitam berisi satu tustel dengan isi 36 film, tape rekaman kaset besar, pena, buku catatan, dan lain-lain. Sepeda motor diparkir dekat sebuah kaki gunung. Petualangan pun dimulai dengan menjelajah jalan yang terjal dan licin.
Saya ingat, saya terpeleset dan nyaris jatuh ke jurang. Syukur Teungku Jecky dan beberapa anggota AGAM menyelamatkan saya. Satu jam perjalanan yang melelahkan dan menyenangkan. Dari ketinggian hutan tersebut, saya menyaksikan pemandangan yang sangat elok.
Akhirnya, Silakan periksa, kata Teungku Lah.
Saya hampir tidak percaya menyaksikan Panglima AGAM sehat bugar. Seulas senyum menghiasi bibirnya. Saya terpana. Kehilangan kata-kata. Rasanya, setelah saya menatap pria berkumis ini, saya ingin pulang. Maklum, sudah sore dan malam segera menyapa.
Tanpa diminta, dia menggulung kaus oblong yang dikenakan hingga ke dagu untuk memperlihatkan dadanya. Dadanya bidang, dihiasi beberapa helai bulu dada. Sama sekali tidak ada bekas peluru. Begitu juga saat ia menggulung kaki celananya hingga ke atas lutut. Tak tampak luka apa pun di kaki dan paha lelaki yang menjadi orang paling dicari TNI itu.
Saya bertemu Teungku Lah beberapa hari setelah dikabarkan sekarat akibat mendapat tiga tembakan di dadanya. Adalah Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Marsekal Muda Graito Usodo yang pertama sekali melempar kabar itu kepada pers di Markas Besar TNI, Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Senin, 21 Februari 2000.
Menurut Graito, dia baru mendapat kabar dari Komandan Kodim Pidie, Aceh, bahwa Abdullah Syafi'ie tengah sekarat (dying, dalam istilah Graito) setelah kakinya tertembak dalam sebuah kontak senjata dengan pihak TNI di kawasan Jiem-Jiem, Pidie, 16 Januari 2000.
Menurut Graito, informasi tertembaknya Abdullah didapat setelah aparat Kodim Pidie menangkap Sofyan, 40 tahun, yang mengaku sebagai anggota intelijen AGAM, di Kecamatan Kembang Tanjung, Pidie. Menurut laki-laki bertubuh kekar dan berkulit gelap itu, Abdullah sekarat akibat luka parah di kakinya yang diterjang peluru TNI. Kesaksian Sofyan itu kemudian diperkuat oleh seorang mantri kesehatan di Puskesmas Kembang Tanjung, Pidie, yang mengaku sempat merawat luka tembak di kaki Abdullah.
Berita yang dilempar Graito, tak pelak, memicu perang baru, yakni perang informasi antara TNI dan AGAM. Soalnya, hari itu juga, setelah komentar Graito disiarkan media massa, pihak AGAM mengirimkan siaran pers berisi bantahan terhadap berita tersebut ke berbagai kantor media massa di Jakarta.
Dalam siaran pers itu, Abdullah menuduh kabar yang dilansir TNI itu merupakan propaganda murahan untuk mengalihkan perhatian dunia dari tindak pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan TNI di Aceh selama ini.
Dengan izin Allah, saya masih segar bugar, tulis Teungku Lah.
Melalui faksimile itu, Abdullah mengakui pada 16 Januari 2000, ketika ia dan anak buahnya di Sektor XII AGAM, di Jiem-jiem, Pidie, dikepung dan hendak disergap oleh 300 prajurit TNI. Tapi, kata Abdullah, dia sudah lebih dulu mendapat bocoran tentang rencana penyergapan itu dari kawan-nya di TNI.
Karena itulah, dia bisa menghindar dengan menarik pasukannya ke sektor X. Tapi, kata Abdullah, tak urung sempat juga terjadi pertempuran selama satu jam.
Setelah sejam wawancara, saya bergegas pamit. Segelas susu panas yang disuguhi oleh istri Teungku Lah cukup menambah tenaga bagi saya untuk menuruni hutan.
Di tepi jalan nasional, saya menanti bus untuk perjalanan selanjutnya. Seminggu kemudian, laporan ini menguasai beberapa halaman di majalah Forum Keadilan. Ini adalah reportase pertama yang membantah Teungku Lah sekarat, dan selama seminggu juga, saya berdiam di rumah sebagai antisipasi dari berbagai risiko. Tidak pernah terpikir, meraba dada Panglima AGAM yang sangat dihormati oleh pengikutnya dan masyarakat.[]
Catatan Murizal Hamzah, Penulis Buku Biografi Hasan Tiro







