Dari cangkir waktu
cinta tumpah
tumbuh
menjalar
dan merambat,
membelah celah syaraf
dan jejak akar kemanusiaan.
Dalam perjalanan, cinta bagai kabut.
Atau bagai selubung penikmat rindu.
Dari penantian, pencarian dan pengertian.
Ia menuju terminal baru dari level ke level. Dari limbik dan kortex ke lubb hati terdalam
Lalu menggapai ma'rifat, Tiba pada Semula.
Taufik Sentana
Banyak menulis prosa dan esai sosial-budaya


