SUBULUSSALAM – Ketua Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kota Subulussalam, Jaminuddin, menyayangkan sikap Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disdikbudpora) yang terkesan memaksa siswa SMA Negeri 1 Simpang Kiri untuk mengikuti upacara 'Nusantara bersatu' di Lapangan Sada Kata, Rabu, 30 November 2016. Akibatnya siswa tersebut lebih memilih mengikuti upacara dibandingkan ikut ujian semester, yang seharusnya mereka ikuti.

“Kepala dinas harusnya tidak melibatkan siswa yang sedang mengikuti ujian,” kata Ketua MPD Subulussalam, Jaminuddin, dalam siaran pers yang diterima portalsatu.com.

Jaminuddin menyebutkan masih banyak siswa dari sekolah lain yang pada hari itu tidak menjadwalkan ujian semester. “Mereka saja yang dilibatkan. Jangan siswa yang sedang ujian itu bisa merugikan mereka,” katanya.

Menurut Jaminuddin selama ini Dinas Pendidikan sering melibatkan siswa untuk kegiatan seremonial. Akibatnya, proses belajar mengajar di sekolah tidak berjalan efektif.

“MPD sangat mendukung keterlibatan siswa yang sifatnya peningkatan mutu siswa, seperti pelatihan dan workshop. Tapi jangan hanya kegiatan seremonial saja,” kata Jaminuddin.

Menanggapi hal tersebut, Kepala SMA Negeri 1 Simpang Kiri, Annadwi, membenarkan ada perintah dari Kepala Dinas Pendidikan kepada siswanya untuk ikut serta dalam upacara 'Nusantara bersatu'.

Namun, ia membantah kegiatan tersebut merugikan siswa. Menurutnya para siswa masih bisa mengikuti ujian semester meski terlambat dua jam dari waktu yang ditentukan.

“Ada atas perintah kepala dinas, kemudian kami cari solusi mengikuti upacara itu semua siswa kelas III IPA dan bisa dipastikan soal ujian tidak bocor. Proses ujian tetap terlaksana hanya saja waktu yang tertunda,” katanya.[]