Setelah berakhirnya bulan Ramadan, tibalah bulan yang sangat dinantikan oleh umat muslim sebagai hari kemenangan yang dikenal dengan lebaran (yaumil aid). Namun menjelang tiba yaumil aid, salah satu fenomena yang menarik dan telah menjadi sebuah budaya dan kultur bangsa Indonesia serta tidak dimiliki oleh negara lain di kala lebaran tiba adalah mudik ke kampung halaman.
Banyak faktor seseorang mudik ke kampung halaman ditinjau dalam berbagai perspektif ilmu baik ekonomi, sosial budaya dan lainnya. Rutinitas mudik dijadikan untuk menziarahi orang tua dan keluarga, baik yang telah tiada maupun masih diberi umur panjang oleh Allah SWT. Ada juga yang meluangkan waktu untuk berlibur panjang di tempat kelahiran untuk mengurusi berbagai kepentingan sosial ekonomi. Bahkan ada juga yang 'tervirusi' oleh efek psikologi media yang mem-blow up kondisi hari aid (lebaran) sehingga ikut-ikutan mudik pula serta berbagai faktor lainya.
Pengaruh dari itu timbullah budaya, relasi sosial, kultural dan nilai emosional yang sangat kuat untuk mewujudkan mudik. Tanah kelahiran merupakan sebagai wadah otentik dari mana kita berasal. Sementara kota itu menjadi ruang abstrak terhadap seseorang. Di mana pun sosok individu itu bekerja dan banting tulang serta mengadu nasib dalam berbagai strata masing-masing dengan penuh perjuangan dan tanpa mengenal lelah dan pamrih.
Di samping itu sedalam dan sejauh mana menyelam ke dunia modernisasi dan era globalisasi dengan penuh kecanggihan teknologi namun hubbul wathan (cinta tanah kelahiran), merupakan sebuah emosional kultural yang menjadi harga mati sehingga melahirkan tradisi bernama mudik. Tradisi mudik merupakan sebagai momentum untuk memperkuat silaturahmi dan merekatkan ikatan sosial serta harus terus dijaga dan dipupuk bukan hanya dalam nuansa lebaran bahkan pasca lebaran.
Selain itu, mudik juga bisa menjadi sebuah momen unjuk keberhasilan dan kesuksesan yang telah diraih seseorang selama di perantauan kepada masyarakat tempat dia berasal. Esensi mudik jangan hanya menjadi sebuah tradisi musiman dan tahunan belaka, dengan tidak merealisasikan sebagai sebuah wadah dan momentum untuk meleburkan dosa sosial dan spiritual yang telah dilakoni dalam kehidupan sehari-hari.
Realita di lapangan ada juga sebagaian jamaah mudik hanya semata-mata telah terkooptasi oleh nilai-nilai dialektika pragmatis-materialistis. Fenomena ini akan melahirkan sebuah jurang dan kesejangan sosial dalam masyarakat. Terkadang prilaku tersebut dikemas dengan bungkusan dan selogan yang relegius dan sprituil dengan percikan nilai-nilai transedentalnya. Dengan begitu mudik lebaran juga jadi semacam suatu problema yang merupakan manifestasi problema sosial di masyarakat dan akibatnya terjadi berbagai kesalahan yang terselubung.[]


