Manusia dituntut untuk dapat mengubah kehidupannya ke arah yang lebih baik. Mereka orang yang malas beribadah berusaha dengan segenap kemampuan untuk menjalankan dan meningkat kualitas dan kuantitas ibadahnya. Mereka yang berpredikat jahil dengan belajar menjadi berilmu, seorang dari bermaksiat berusaha menjadi taat dan berbagai perubahan lainnya.
Merekalah merupakan ciri-ciri orang bermujahadah di jalan yang diridhai Allah Swt. Seorang pemudik memerlukan pengawasan terhadap bekal yang akan dibawa pulang ke kampung halaman. Sang pemudik akhirat dalam pengawasan bekalnya harus merasa selalu diintai oleh Allah.
Sikap seperti ini dikenal dengan muraqabah. Di mana saja kita berada baik sendirian atau tempat keramaian harus merasa seolah ada semacam cctv (kamera) yang selalu mengintai sehingga berbagai kemaksiatan akan dapat dikurangi bahkan dihilangkan sebab kita merasa malu Allah memandang dan melihat kita bermaksiat.
Dalam hal ini Allah berfirman: Sesungguhnya Tuhan kamu sungguh-sungguh mengawasi. (QS. A-Fajar:14). Dijelaskan pula dalam ayat lain, berbunyi: Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan tersembunyi.(QS. Al-Ala:[87]:7)
Seseorang yang selalu bermuraqabah akan melahirkan sikap ihsan. Ihsan itu seperti yang digambarkan dalam sabda Rasulullah Saw ketika ditanyakan oleh malaikat Jibril, beliau berkata: Engkau menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kamu.(HR. Imam Muslim).
Permata yang bernama ihsan merupakan puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah Swt di muka bumi ini. Ihsan itu menjadikan kita sosok yang memperoleh kemuliaan dari-Nya. Begitu juga sebaliknya, seorang insan yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mulia dan tinggi harganya untuk memperoleh posisi terhormat di mata Allah Swt.
Muaqabah (Bersanksi Diri)
Pemudik yang perjalanannya sangat jauh tentu saja perbekalannya yang telah disimpan dengan baik, pasti kualitas bekal itu akan berbeda apabila tanpa adanya serpihan dan tempelan dengan berbagai ramuan yang tidak menghilangan substansi bekal dan oleh-oleh itu sendiri. Sang pemudik akhiratpun juga harus memberikan sangsi dan tempelan terhadap ibadah yang banyak lalai atau kurang maksimal dengan memperbanyak bersedekah dan lainnya. Perilaku semacam ini dikenal dengan muaqabah. Realisasi Muaqabah juga dapat dilakukan dengan bersegera bertaubat.
Kita harus belajar memberikan sanksi di kala lalai walaupun itu perkerjaan tidak mudah, di samping membutuhkan self-awareness (kesadaran diri) dan keimanan yang tinggi. Sebagaiman diabadikan sebuah kisah seorang nabi dalam Alquran yang bernama Sulaiman Alaihissalam, berbunyi: ingatlah pada suatu waktu diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang tenang dikala berhenti dan cepat berlari di waktu sore, maka dia berkata: sesungguhnya saya menyukai kesenangan terhadap benda yang bagus (kuda) sehingga saya lalai mengingat Tuhan aku sampai kuda itu hilang dari pandangan, bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku, kemudian dia potong kaki dan leher kuda tersebut.(QS.Shad: [38]: 31-32).
Di antara kasus lain yang dapat dijadikan sebagai suri tauladan dalam hal menghukum diri (iqab) terhadap sebuah kelalaian dan kekhilafan sebagaimana dipraktekkan oleh salah seorang khulafauurasyidin bernama Saidina Umar bin Khattab.
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Umar bin Khaththab pergi ke kebunnya. Namun apa yang terjadi, ketika beliau telah pulang ternyata jamaah sudah selesai melaksanakan salat Ashar. Lantas beliaupun berkata: Saya pergi hanya untuk sebuah ladang, kemudian sayapulang mereka telah mengerjakan sembahyang Ashar, sekarang ladang saya, aku jadikan sebagai sedekah untuk orang-orang miskin .
Selanjutnya bagaimanakah dengan akhlak dan prilaku kita? Hendaknya dari tradisi mudik setiap tahun, tentunya kita harus banyak belajar untuk mempersiapkan perjalanan mudik bukan hanya untuk keluarga dan sanak keluarga di dunia ini. Namun juga harus mampu beribrah (mengambil pelajaran) untuk dapat mempersiapkan diri sejak dini sebaik mungkin menuju mudik ke kampung halaman yang lebih esensial dan hakiki ke akhirat nanti kelak. Semoga !!!




