BIREUEN – Menjadi mugee buku haruslah memiliki mental baja, termasuk membuang jauh rasa malu dan gengsi. Bukan hanya kerap disangka penjual mangga keliling, resiko diusir pun menjadi satu pengalaman tersendiri.
Itulah yang dirasakan Rifqi Maulana, 22 tahun, mahasiswa asal Juli Paseh, Kabupaten Bireuen. Namun, gelak tawa girang anak-anak saat membaca buku yang ia bawa membangkitkan semangatnya. Ia pun terus memotivasi diri sendiri 'aku ini berguna'.
“Saat pertama kalinya menjadi mugee buku itu rasanya malu sekali. Apalagi jika ada para pemuda yang lagi ngumpul, rasanya ingin balik putar arah. Meski akhirnya saya coba mantapkan hati tetap melaju. Pernah juga saat melewati pedesaan di-stop warga, tak lama kemudian dikerumuni karena disangka penjual mangga keliling,” kata Rifqi kepada portalsatu.com via pesan Blackberry Messenger (BBM), Selasa, 1 November 2016 pagi.
Dia sempat diusir karena disangka jualan saat hendak mangkal. Tapi masyarakat setempat membela, karena tujuannya hanya ingin membangkitkan budaya membaca pada anak-anak sejak dini.
“Ide mugee buku ini sebenarnya muncul dari sebuah penolakan. Saya sempat minta izin Dinas Pendidikan Bireuen untuk mengoperasikan motor pustaka milik Badan Arsip dan Perpusda Bireuen, namun kala itu kepala dinasnya tidak mengizinkan dengan dalih tidak ada anggaran. Atas dasar rasa kesal itulah saya termotivasi untuk membuat perpustakaan keliling sendiri. Secara pribadi pak Kadis pernah menyumbang buku, tapi kurang layak baca,” ujarnya.
Rifqi tidak mau berharap muluk-muluk. Ia hanya berdoa agar Allah SWT mempertemukan ia dan teman-temannya dengan orang baik yang peduli pendidikan, sehingga apa yang mereka lakukan terus berkembang dan semangat ini bisa ditularkan.
“Sudah sepantasnya anak muda mulai berpikir dan bekerja untuk masa depan bangsa demi kelangsungan anak cucu kelak. Terkait banyaknya anak-anak dan remaja masa kini yang lalai dengan teknologi (handphone dan warnet), itu kuncinya dimulai dari keluarga. Jika keluarga membiarkan, maka akan terjadi. Tapi jika keluarga peduli, pasti akan teratasi,” katanya.
Ditambahkan, buku yang ada di balai baca berasal dari berbagai sumber. Diantaranya dari pulau Jawa, Sekolah Sukma Bangsa Bireuen, masyarakat umum dan donatur tetap Rahmania Foundation.
“Beberapa waktu lalu kami ke Pulo Aceh dalam kegiatan ransel baca. Kegiatan ini rutin kami gelar setiap bulan dengan sasaran daerah terpencil. Kami membaca bersama dan mensosialisasikan pola hidup sehat, serta membagikan buku kepada anak-anak setempat. Secara kebetulan melalui APISI, The Asia Foundation menyumbang buku untuk dibagikan kepada anak-anak di Pulo Aceh,” kata Rifqi. []
Laporan: Cut Islamanda

