BANDA ACEH — Muhammad Faiz Al Fayat, 4 bulan, tidur dengan lelap di salah satu ranjang pasien di Kamar 5, Ruang Raudhah 2, Rumah Sakit Zainal Abidin, Banda Aceh, Selasa siang, 29 Agustus 2017. Nafasnya terlihat cepat dan pendek-pendek.

Di kepala bagian atas sebelah kanan, ada perban untuk menutupi luka bekas operasi. Sejak 11 Juli 2017 lalu, bayi mungil itu menjadi salah satu pasien di rumah sakit rujukan terbesar di Aceh tersebut. Sebelumnya ia juga pernah dirawat dengan durasi yang cukup lama.

Pagi harinya dokter melepas slang-slang yang ada di tubuh Faiz. Ibunya, Safrida, 23 tahun, mengatakan dokter sudah mengizinkan Faiz untuk pulang setelah menjalani dua kali operasi di kepalanya.

Saat portalsatu.com mengunjunginya pada Selasa siang, Safrida sudah membereskan semua barang-barangnya. Suaminya, Safrizal, 30 tahun, juga sudah menyiapkan berkas-berkas kepulangan pasien sesuai dengan anjuran perawat.

“Kata dokternya pulang dulu, cari rezeki dulu, biar ada biaya untuk berobat Faiz selanjutnya. Nanti tinggal kontrol lagi, tindakan selanjutnya menunggu hasil scanning kepala Faiz,” kata Safrida dengan sorot mata memancarkan kegembiraan saat berbincang dengan portalsatu.com.

Kegembiraan yang sangat dimaklumi sebab buah hatinya mulai menunjukkan perubahan kesehatan yang signifikan. “Tidak seperti saat pertama dirujuk ke sini, waktu itu Faiz sempat koma,” kata Safrida lagi. Bobot tubuhnya juga menyusut. Bahkan baju-baju Faiz jadi kedodoran.

Safrida menuturkan, saat berumur 20 hari, Faiz tiba-tiba diserang demam. Sejak saat itu sampai kemarin ia terus bolak-balik keluar rumah sakit. Awalnya, kata Safrida, dokter sempat menduga bayi mungil itu menderita retina blastoma atau kanker mata karena mata sebelah kirinya membengkak. Belakangan diketahui, Faiz mengalami penumpukan nanah atau abses akibat infeksi di kepalanya, atau dalam bahasa medisnya disebut empyema intraventricular ec hydrocephalus.

“Dia terpapar bakteri dari lingkungan, makanya jadi infeksi dan bernanah. Dari sekitar area mata itu karena udah menumpuk banyak, akhirnya naik ke kepala dan pecah sendiri kemarin itu,” kata Safrida.

Untuk mengeluarkan nanah atau abses di kepalanya, Faiz sudah menjalani dua kali operasi. Sekarang mata Faiz sudah kembali terlihat normal dan kepalanya juga tidak lagi membesar. Hal ini yang membuat Safrida menjadi lebih gembira. Setidaknya, kekhawatirannya mengenai kesehatan bayinya sedikit berkurang.

Safrida dan suaminya bersyukur untuk biaya pengobatan Faiz sudah ditanggung pemerintah melalui jasa pelayanan kesehatan. Namun, ia mengaku untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari selama di rumah sakit membutuhkan biaya yang tidak sedikit, apalagi sudah berbulan-bulan seperti sekarang. Kemiskinan membuat pasangan muda asal Juli, Kabupaten Bireuen ini harus mengencangkan ikat pinggangnya dengan kuat selama berada di rumah sakit. “Kadang kami makan sehari sekali.”

Bahkan, kata dia, saat membawa Faiz dari Bireuen ke Banda Aceh, ia memberanikan diri untuk meminta biaya dari ketua salah satu komunitas relawan yang bergerak di bidang kanker di Banda Aceh.

“Waktu itu beliau mengirimkan kami uang Rp500 ribu, dengan uang itulah kami berangkat ke Banda Aceh. Kalau dicerita sedih, sangat sedih. Tapi kita harus selalu mengingat pada Allah, kita bilang sedih kita pasti ada orang yang nasibnya lebih menyedihkan lagi dari kami,” kata Safrida berusaha tegar.

Pernah, kata dia, suatu hari tidak ada lagi uang sepeser pun yang mereka miliki. Akhirnya, Safrida yang punya keahlian mengurut menawarkan jasanya pada salah satu perawat rumah sakit. Dengan sejumlah uang dari menukarkan jasanya itulah ia bisa membeli keperluan buah hatinya seperti popok dan lainnya.

Pernah juga keluarganya mendatangi kediaman Gubernur Aceh di Lamprit, Banda Aceh. “Waktu itu gubernur ke Simeulue. Hana tatuho jak lé, hana tatupat lakèe lé (tidak tahu mau ke mana lagi, dan tidak tahu mau minta bantuan sama siapa lagi),” katanya lirih.

Suaminya, Safrizal, hanya buruh dapur batubata di Bireuen sana. Penghasilannya jauh dari kata cukup, dan sejak bolak-balik ke rumah sakit otomatis pekerjaannya menjadi tidak lancar yang berdampak pada tersendatnya pendapatan mereka.

“Faiz juga harus diberikan susu khusus untuk memenuhi nutrisinya, harganya mahal. Saya bersyukur karena ada dokter yang secara pribadi mau menyumbangkan susu tersebut kepada Faiz selama di rumah sakit ini.”

Kondisi keluarga tersebut yang memprihatinkan, mendapat perhatian serius dari Komunitas Solidaritas Dhuafa Aceh (KSDA) wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar.

Sehari sebelumnya, sejumlah relawan di komunitas itu telah menjenguk untuk mengetahui kondisi Faiz. Mereka juga berencana untuk menggalang dana bagi Faiz. Mereka juga menjenguk balita lain yang menderita hydrocephalus.

Ketua KSDA Banda Aceh-Aceh Besar Saddam Alfiya mengatakan, pihaknya sangat prihatin mengenai kondisi bayi tersebut yang terbilang sudah lama menjalani perawatan medis.

“Untuk kondisi balita seumuran Faiz sebaiknya ada bantuan dan penanangan lebih serius lagi untuk diobati. Karena itu sudah terbilang parah sampai sudah terdiagnosa meningitis. Kita juga prihatin pada kondisi keluarganya yang terbilang tidak mampu. Semoga Faiz segera sembuh. Bagi dermawan yang ingin meringankan beban keluarga Faiz boleh menyalurkan infaknya melalui KSDA,” katanya.[] (*sar)