Tubuhnya tampak ringkih dengan tulang menyembul di balik kulit. Rahangnya tercetak jelas. Bagian kakinya terbujur kaku, tak bisa digerakkan lagi. Jangankan untuk berdiri, duduk saja sudah tak mampu. Melalui spasi papan dinding kamarnya, pemuda itu mengintip setiap ada tamu yang datang.
Mursalin namanya. Usianya masih 21 tahun saat musibah itu terjadi pada pertengahan 2012 silam. Kini, usianya menginjak 25 tahun. Ia merupakan warga Gampong Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.
Sejak kecil saya hobi bermain bola. Namun saya berkeinginan menjadi seorang pendakwah, makanya masuk dayah. Karena saya orang tak berpunya dan kedua orang tua pun sudah meninggal, akhirnya saya ke luar dari dayah dan pulang kampung, kata Mursalin saat ditemui portalsatu.com di rumahnya, Selasa, 17 Mei 2016, siang.
Pulang kampung, Mursalin ikut meramaikan turnamen bola kaki antarkampung yang kala itu diadakan di Gampong Geudumbak, Kecamatan Langkahan. Saat itu, ia berperan sebagai penjaga gawang atau kiper.
Saat hendak menangkap bola yang ditendang lawan, tibatiba saya terpeleset. Saat terjatuh, lutut kanan yang pertama kali menyentuh tanah. Paha kanan langsung tidak ada rasa (kebas), tapi saya masih bisa berjalan pulang. Di malam hari, sakitnya baru terasa, kaki kanan tak bisa digerakkan. Ternyata itu akhir kisah saya menjadi kiper,
kenang Mursalin.
Ia mengaku tidak tahu sebab sehingga lumpuh, apakah ada saraf yang terjepit atau penyebab lainnya. Lima bulan kemudian, sakitnya mulai menjalar ke kaki kiri. Hingga akhirnya kedua kaki Mursalin tak bisa digerakkan lagi alias lumpuh.
Sepeninggalan kedua orang tua depalan tahun lalu, saya tinggal bersama kakak, Ainol Mardiah, 45 tahun yang dalam kesehariannya berkebun di bukit. Saban hari saya dirawat keponakan saya yang telah berusia 18 tahun. Secara kebetulan kedua anak kakak saya laki-laki. Keponakan sayalah yang memberi makan dan membersihkan kotoran saya. Mau bagaimana lagi, saya hanya bisa terbaring begini, ucapnya yang ditemani kakak lainnya, Mariani, 32 tahun.
Mursalin menupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak minggu kedua pascamusibah itu, pantatnya mulai mengelupas dan luka karena lembab akibat sering buang air kecil dan air besar. Untuk membeli popok dewasa, ia tak punya uang.
Di tengah derita yang ia rasakan, pemuda berhidung mancung itu masih bisa berkelakar sambil tertawa, Memang dalam keadaan saket meunoe patot ta bersyukor chit na rumoh papeun lage nyoe. Na tempat talum u luwa. Menyoe rumoh beton ka hana deuh sapu.[]

