BANDA ACEH – Museum Aceh memamerkan 6.358 koleksi dalam pameran 100 Tahun Museum Aceh, Banda Aceh, Kamis, 30 Juli 2015. Benda-benda tersebut berasal dari zaman Kesultanan Aceh Darussalam hingga era kemerdekaan Republik Indonesia.

Beberapa benda budaya yang dipamerkan tersebut seperti meriam, cap sikureung, nisan tinggalan Samudera Pasai, senjata khas Aceh seperti rencong, klewang dan pedang. Selain itu, Museum Aceh juga memamerkan manuskrip-manuskrip kuno yang salah satunya adalah lembaran Bab 7 Bustanussalatin.

“Jadi ada 6.358 benda koleksi Museum Aceh yang dipamerkan. Benda-benda tersebut terbagi dalam 10 jenis koleksi, yaitu geologi, biologi, etnografi, arkeologi, historical, numsmatical, filological, keramik, seni rupa, dan teknologi,” ujar Kasi Koleksi dan Bimbingan Edukasi Museum Aceh, Edeh Wardiningsih, saat dijumpai di sela-sela pembukaan pameran 100 Tahun Museum Aceh, Banda Aceh, Kamis, 30 Juli 2015.

Menurut Edeh, benda yang paling banyak dikoleksi Museum Aceh adalah jenis etnografi dan filological. “Khusus filological, itu sekitar 1.600-an, termasuk Bustanussalatin. Tapi dari benda-benda koleksi ini ada juga yang rusak,” katanya.

Selain Museum Aceh, pameran 100 Tahun Museum Aceh ini juga disertai oleh Pusat Dokumentasi Informasi Aceh (PDIA). Lembaga ini merupakan bentukan Pemerintah Aceh bersama Universitas Syiah Kuala yang mengoleksi dokumen dan arsip sejarah Aceh sejak era kesultanan hingga masa kemerdekaan.

Salah satu arsip yang dipamerkan PDIA adalah manuskrip kuno seperti “Rahasia Pengungkapan Gempa, Hukum Islam, Tuntunan Membaca Alquran”. Selain itu, PDIA juga memamerkan beberapa foto koleksi era kolonial dan arsip surat kabar.[] (bna)