BANDA ACEH – Bidang Pemberdayaan Muslimah, Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh, melaksanakan Pelatihan Tajhiz Jenazah di Komplek Bumi Asri Gampong Reuloh, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Sabtu, 25 Nopember 2017.

Kegiatan ini dihadiri oleh segenap tokoh gampong tersebut. Pelatihan yang mengambil tema, “Urgensi Prosesi Fardhu ifayah dalam Penguatan Kader Umat,” berlangsung sejak pukul 09.00 hingga menjelang siang. 

Wakil Ketua IKAT Bidang Pemberdayaan Muslimah, Cut Endang Sari, Lc., MA. menyebutkan bahwa kehadiran mereka ke Gampong Reuloh adalah inisiatif dari masyarakat gampong sendiri. 

Cut Endang juga menjelaskan bahwa mereka selalu siap untuk melakukan pelatihan dan pengkajian dalam rangka peningkatan kualitas keilmuan masyarakat. Ini merupakan gerakan pengabdian dan tanggung jawab keilmuan. Bidang Muslimah IKAT juga memiliki tenaga ahli di dalam berbagai bidang, seperti Pelatihan Fardhu Kifayah, Tahsin, Tahfiz, Mawaris, Fikih, Ekonomi, Bahasa dan bidang lainnya.

Nurmarini, BA., salah satu Tim Pelatihan Tajhiz Jenazah yang turun ke Gampong Reuloh menjelaskan bahwa kegiatan tersebut masih bersifat kondisional. Tetapi  mereka akan selalu siap berkoordinasi dengan berbagai pihak agar kegiatan kegiatan pengembangan keilmuan berbasis muslimah dapat selalu ditingkatkan dalam berbagai level. 

Kajian Rutin

Selain itu, untuk memperdalam kajian keilmuan di kalangan internal, Bidang Muslimah IKAT pada Minggu, 26/11/2017 mengadakan Kajian Rutin. Kajian ini diasuh oleh Ustazah Rafiqah Ahmad, Lc., MA, Dosen Ekonomi Syariah, dan Ustazah Dr. Sarina Aini, Lc. MA, Dosen Fikih dan Ushul Fikih.

Acara ini dilangsungkan untuk membahas kajian kajian kontemporer dan peningkatan wawasan keilmuan anggota IKAT. Kajian Rutin ini berlangsung hangat walaupun ditengah guyuran hujan yang lebat. Berbagai argumentasi baik klasik dan kontemporer dipaparkan oleh dua orang pemateri yang memang pakar di bidangnya. 

Dr. Sarina Aini yang sedang menyelesaikan Program Doktoral keduanya di UIN Ar Raniry menyebutkan bahwa agenda ini sangat penting, bahkan kalau memungkinkan diperluas areanya. Spirit diskusi dan peningkatan keilmuan muslimah harus terus diperkuat untuk menghadapi tantangan global yang semakin deras. Sarina juga mengingatkan bahwa peningkatan keilmuan bukan hanya untuk akademisi.

“Bahkan seorang ibu rumah tangga pun seharusnya memiliki keilmuan yang mumpuni, karena merekalah madrasah pertama dan benteng keilmuan masyarakat,” pungkasnya lebih lanjut.

Cut Endang, Lc., Wakil Ketua IKAT bidang Pemberdayaan Muslimah juga menyebutkan bahwa agenda ini merupakan ajang silaturahmi, disamping penguatan keilmuan. Pengalaman menuntut ilmu di berbagai negara di Timur Tengah tentu harus mampu kita artikulasikan dalam kegiatan dan keseharian kita. Jangan sampai amanah keilmuan yang kita emban menjadi bias.

Selain silaturahmi internal, Bidang Pemberdayaan Muslimah juga telah mengagendakan beberapa agenda silaturahmi dengan berbagai pihak di Aceh.

“Ini kita maksudkan semata-mata untuk membangun Aceh yang bersyariah dan tampil di gelanggang peradaban kekinian,” tutup Cut Endang.[] (rel)