PANGLIMA Moja, demikian lelaki tua bernama lengkap Mohammad Yusuf Abdullah itu biasa disapa di era sejarah perjuangan Aceh Merdeka (AM). Seiring berjalannya waktu, nama itu mulai menghilang di tengah hiruk-pikuk perdamaian Aceh. Nasibnya kini sangat jauh dari kegagahan dan keberaniannya di masa lalu. Tanpa tempat tinggal yang jelas, ia terabaikan di ruang damai.

Di akhir perjuangannya terdahu tahun 1979, ia menjabat sebagai Staf Kementerian Pertahanan Aceh Merdeka (AM), setelah sebelumnya menjabat sebagai Panglima Wilayah Samudera Pase, dan beberapa jabatan penting lainnya semasa perjuangan.

Lelaki tua berusia 64 tahun itu kini menetap di Gampong Ulee Buket, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara. Dari Simpang Rangkaya, Tanah Luas, jarak tempuh menuju ke lokasi sekitar 12 kilometer. Jalan lintas gampong (desa) itu sebagian telah diaspal. Namun, sepanjang 4 kilometer dari Gampong Bayi menuju Ulee Buket masih berbatu dan penuh debu.

Untuk berkunjung ke lokasi tempat tinggal Panglima Moja, harus melewati beberapa perkampungan dan kebun sawit, serta naik turun bukit. Di sepanjang jalan terlihat banyak rumah swarga yang masih tidak layak huni.

“Alahai neuk, katrok keuh keunoe (Wahai anak, sudah sampai kamu kemari),” ujar Panglima Moja saat portalsatu.com berkunjung, Minggu, 5 Februari 2017, siang. Meski hanya berjalan beberapa langkah dari kamar menuju ruang tamu yang cuma beralaskan tikar di lantai, napas Panglima Moja terengah-engah. Bahkan, ia harus mengatur napas hingga lima menit untuk dapat berbicara. Di ruangan untuk menyambut tamu itu terdapat sebuah meja makan dan kulkas/lemari pendingin berukuran kecil.

“Lon ka la’eh, nyoe baro lon woe dari rumoh saket tanggai 24 buleun sa (Januari). Limoeng malam lon eh bak rumoh saket Sakinah di Lhokseumawe, mulai tanggai 19 sampoe 24 buleun sa (Januari). Dipegah le doktor, lon saket saluran pernapasan ngen lambung. Jinoe bek’an lon jak jioh, u kama manoe mantong ka hek, (Saya sudah tua, ini baru pulang dari rumah sakit tanggal 24 Januari 2017. Lima malam saya tidur di RS Sakinah Lhokseumawe, mulai tanggal 19 hingga 24 Januari. Kata dokter, saya sakit saluran pernapasan dan lambung. Saat ini jangankan bepergian jauh, ke kamar mandi saja sudah capek/lelah),” kata Panglima Moja menceritakan kondisinya kini.

Untuk biaya rumah sakit, ia mengandalkan kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Namun, untuk biaya obat dan check-up kesehatan di dokter spesialis, ia harus merogoh kocek pribadi yang memang pada dasarnya tidak ada pemasukan.

“Meunyoe ta’eh bak rumoh saket, gratis na BPJS. Tapi wate tajak bak doktor spesialis kon suah bayeu. Menuyoe ta andalkan ubat BPJS pane na, nyan kon saban lage ubat bak Puskesmas. Bek tanyong peng dari pane, sabab lon memang hana peng. Dibantu le aneuk ngon syedara (Jika tidur di rumah sakit, gratis ada BPJS. Tapi saat pergi ke dokter spesialis, kan harus bayar. Jika hanya mengandalkan obat BPJS mana ada, itu kan sama dengan obat di Puskesmas. Jangan tanyakan uang dari mana, karena saya memang tidak punya uang. Dibantu oleh anak dan saudara),” ucapnya.

Portalsatu.com menemui Panglima Moja di sebuah rumah kayu yang dindingnya telah lapuk dimakan rayap. Rumah itu menyatu dengan bangunan rumah panggung lainnya atau dalam bahasa Aceh lebih dikenal dengan sebutan ‘rumoh santeut’.

“Nyoe rumoh kak lon, di keu blah deh jalan rumoh aneuk, lon hana rumoh. Na awai di Gampong Blang Pie (tetangga Gampong Ulee Buket), tapi ka ditot wate masa konflik thon 1979. Wate nyan rumoh lon dibongkar, kaye dipeusapat, aleuh nyan ditot. Sampoe inohat lon hana rumoh, tinggai sigogo sapat (Ini rumah kakak saya, di depan seberang jalan rumah anak saya, saya tidak punya rumah. Ada dulu di Gampong Blang Pie (tetangga Gampong Ulee Buket), tapi sudah dibakar saat masa konflik tahun 1979. Waktu itu rumah saya dibongkar, kayu dikumpulkan, setelah itu dibakar. Sampai saat ini saya tidak punya rumah lagi, tinggal di sini sebentar di sana sebentar),” jelasnya.

“Meunyoe na yang tanyong lon pat tinggai, lon tinggai di meunasah. Lhee ploh tujoh thon ka, tapi lon mantong deuk. Hana bantuan sapue nyang lon terimong, seulaen bak breuh murah ngon peng Rp100 ribe lam amplop wate uroe raya. Wate dr. Zaini Abdullah (Doto) geduek Gubernur Aceh, na dipeugah dibri bantuan rumoh ka didisposisi melalui staf pribadi. Tapi sampoe inohat lon manteung tinggai bak meunasah (Jika ada yang tanya saya tinggal di mana, saya tinggal di meunasah/mushalla. 37 tahun sudah, tapi saya masih lapar. Tidak ada bantuan apapun yang saya terima, selain beras miskin (raskin) dan uang Rp100 ribu dalam amplop saat lebaran tiba. Waktu dr. Zaini Abdullah (Doto) duduk sebagai Gubernur Aceh, pernah dikatakan akan diberi bantuan rumah, bahkan sudah didisposisi melalui staf pribadi. Tapi sampai saat ini saya masih tinggal di meunasah),” tutur Panglima Moja.

Dalam buku berjudul “Dari Rimba Aceh ke Stockholm” yang ditulis Dr. Husaini M. Hasan Sp.OG, pada halaman 229 tertulis sebuah cacatan tertanggal 24 Desember 1979, “Kami tiba di Krueng Peutoe mencari Panglima Wilayah Pase, Moja. Menjelang senja, kami berjumpa rombongan pencari rotan dan bermalam di rangkang mereka. Saat asyik tidur, rangkang ambruk. Saya dan Teungku Ilyas Leube terjatuh dari rangkang. Alhamdulillah, tidak ada yang terluka”.[]