Kamis, Juli 25, 2024

PPK Sawang: Uang Operasional...

ACEH UTARA - Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Sawang di bawah Komisi Independen Pemilihan...

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...
BerandaNikmatnya Kuliner Rumoh...

Nikmatnya Kuliner Rumoh Bakso Khas Lampung di Lawe Loning

KUTACANE – Kutacane merupakan Ibu Kota Kabupaten Aceh Tenggara dan juga pintu masuk ke Taman Nasional Gunung Leuser. Untuk mencapai Kutacane, dapat melalui jalur darat sekitar enam hingga delapan jam dari Kabupaten Karo, Medan, Sumatera Utara. 

Sementara dari pesisir Aceh, untuk menuju Kutacane kita bisa melewati Aceh Tengah dan Blangkejeren. Sepanjang jalan kita disuguhkan panorama indah Danau Lut Tawar, beberapa titik air terjun kecil dan juga hamparan gunung dan perbukitan yang hijau. Meski jalan terbilang mulus, tetapi pengemudi harus hati-hati karena jalan terjal penuh tikungan tajam dan jurang.

Dari jantung Kota Takengon, Aceh Tengah, akan memakan waktu antara lima hingga tujuh jam perjalanan menuju Blangkejeren. Setelah itu berlanjut dua hingga tiga jam untuk tiba di Kutacane dengan melewati Taman Nasional Gunung Leuser. Ada kalanya kita akan berpapasan dengan para wisatawan mancanegara yang berada di kawasan tersebut.

Para pengemudi sebaiknya memastikan BBM terisi penuh di tangki mobil, sebelum melewati Kota Takengon. Soalnya di kawasan Blangkejeren, BBM di SPBU hanya tersedia setengah hari, selebihnya cuma dijual di pedagang pengecer dengan harga relatif mahal, yaitu Rp10 ribu/liter untuk premium dan pertalite.

Untuk kuliner, akan sulit menemukan ikan laut segar di Kutacane. Rata-rata masyarakat setempat mengkonsumsi ikan air tawar atau ikan sungai, seperti lele, mujair, ikan nila, ikan mas, dan lainnya. Namun ada juga warung yang menyediakan ikan laut, meski kurang segar karena telah dibekukan terlebih dahulu. Bagi yang tidak suka ikan air tawar karena agak berbau, jangan khawatir. Banyak warung/rumah makan Padang yang menyediakan menu andalan udang dan ayam.

Berjarak 25 kilometer dari Kota Kutacane, masih di lintasan jalan nasional Kutacane – Medan, di kawasan Desa Lawe Loning Aman, Kecamatan Lawe Sigala-gala, terdapat sebuah warung lesehan sederhana. Aneka menu perpaduan Aceh – Lampung sangat cocok di lidah, tentunya harga pun bersahabat di kantong.

Warung berukuran 3×8 meter itu berdiri di depan rumah bercat biru muda. Meski terlihat sederhana, tetapi rasa aneka kuliner yang disuguhkan boleh diacungi jempol. 

“Warung ini sebenarnya sudah lima tahun kita jalankan. Namun, sempat tutup setahun karena tidak ada yang kelola. Awal Idulfitri 2017 lalu, kita buka kembali. Alhamdulillah, penikmatnya kian ramai karena ada beberapa menu baru yang kita tawarkan, salah satunya bakso khas Lampung,” ujar Asnawi, 36 tahun, pemilik kafe dan resto lesehan Warung Bakso Khas Lampung, ditemui portalsatu.com, beberapa waktu lalu.

Diakui Asnawi, menu andalan di warungnya adalah bakso dan nasi goreng spesial. “Kita sengaja memilih bakso, mi Aceh dan nasi goreng, mengingat kuliner itu paling diminati semua kalangan. Namun, rasa yang kita tawarkan berbeda dengan tempat lainnya. Penasaran, silakan datang dan coba nikmati sendiri. Selain itu juga ada beberapa menu lainnya dan aneka jus buah segar,” ucapnya tertawa.

Pria berkulit sawo matang itu sengaja memilih nama 'rumoh', karena ia berasal dari Aceh. Untuk ramuan bakso Lampung, katanya, diracik kakak iparnya.

“Beberapa waktu lalu, saat kakak ipar saya ke Medan, ia melihat ada satu warung bakso yang ramai pengunjung, seolah tiada jeda. Saat dicoba, ternyata rasa bakso dan kuahnya memang sangat enak. Ia pun meminta pemilik warung mengajarinya meracik bakso yang sama. Setelah belajar sebulan lamanya, maka kami bukalah warung ini,” bebernya.

Ia menambahkan, “Modal awalnya kecil, hanya Rp 5 juta. Untuk omzet. Alhamdulillah, sekitar Rp 500 ribu per hari. Maklumlah, masih pemula,” ujar Asnawi tersenyum. 

Yanis, 30 tahun, salah satu pengunjung asal Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara mengatakan, “Baksonya enak dan lembut, kuah kaldunya juga mantap. Rasanya memang berbeda dengan bakso kebanyakan yang ada di Aceh Utara. Recommended-lah.”[]

Baca juga: