Orang orang kembali bertanya
tentang dirinya,
kekuatannya,
ketangguhannya
dan kesiagaannya.
Dimanakah kekuatan yang dibanggakan itu? Dimanakah pengetahuan yang menjadi tuhan itu?
“Datangkanlah sebelah sayap lalat saja!”
FirmanNya kemudian.

Kita kembali bersadar bahwa kita perlu menjejak sunyi di tengah hiruk pikuk dunia, yang  penuh-sesak olek seleberasi dan foya.
Lalu memulai ritme hidup yang lembut dan sederhana, saling mengisi, 
berbagi dan empati.

Adapun angka angka tentang korban terinfeksi dan bahkan wafat, hanya menunjukkan kekerdilan kita dari rahasia maut, maut yang sedia mengintai.

Sedang sejatinya, tiada yang dapat menimpa kita kecuali Telah Ditetapkan. kita hanya mengisi ruang untuk mengenali diri dan bersandar pada batasan mengelola alam. 
Adapun ketimpangan di dalamnya akan menjadikan musibah kemudian atau bahkan azab:
Sebab, tidaklah Ia Menzhalimi hambaNya…..[]

Taufik Sentana
Peminat sastra sufistik