TAPAKTUAN — Belum lengkap rasanya ke Aceh Selatan kalau belum melihat langsung jejak kaki raksasa milik Tuan Tapa di Kota Tapaktuan. Jejak kaki Tuan Tapa ini akan mengundang rasa penasaran para wisatawan yang melewati atau mengunjungi ibu kota kabupaten di selatan Aceh tersebut.

Konon zaman dahulu hidup seorang syekh bernama Tuan Tapa yang sangat taat kepada Allah. Sebagian masyarakat percaya Tuan Tapa ini memiliki postur tubuh berukuran raksasa. Sementara yang lain meyakini ia adalah manusia biasa, namun memiliki kesaktian berubah wujud menjadi manusia raksasa.

Suatu hari ada dua naga raksasa dari Cina menemukan bayi perempuan hanyut di laut dan dirawat hingga dewasa. Orang tua bayi tersebut yang ternyata adalah seorang raja dari Kerajaan Asralanoka mengetahui bahwa putrinya masih hidup dan berada pada dua naga raksasa.

Orang tua putri tersebut meminta kembali putri mereka namun ditolak oleh sang naga hingga akhirnya membawa kabur putri tersebut. Hal ini membuat naga marah dan saling berkejaran di laut, hingga sampai di lokasi pertapaan Tuan Tapa. Merasa terganggu Tuan Tapa bangun dari persemediannya dan melompat dari gunung menuju tebing pantai.

Jejak kakinya yang bisa disaksikan para wisatawan sekarang ini, dipercaya bekas hentakan kaki Tuan Tapa saat melompat dari gunung. Tuan Tapa kemudian memenangkan pertarungan dengan naga tersebut dan tuan putri kembali lagi kepada orang tuanya. Namun sang raja ini memutuskan tidak kembali lagi ke negerinya.

Informasi mengenai legenda Tuan Tapa ini bisa dibaca wisatawan di tugu yang belum lama ini dibangun oleh pemda setempat di pinggir pantai sebelum menuju ke lokasi tapak kaki Tuan Tapa.

Lihat: Mudahnya Kini Melihat Jejak Kaki Tuan Tapa di Tapaktuan

Di antara mereka yang penasaran dengan objek wisata ini adalah Ridho dan Adi dari Manado, Sulawesi Utara. Dua anak muda ini sejak belasan hari lalu melakukan touring dengan sepeda motor gedenya untuk menyusuri sebagian wilayah Indonesia hingga ke ujung barat.

Setelah menyusuri sebagian wilayah pesisir timur dan utara Aceh hingga ke Sabang, keduanya ditemani dua pemotor dari Medan, Sumatera Utara, memilih pulang dari pesisir barat dan selatan Aceh.

“Tadi sore sampai ke Kota Tapaktuan, kami berhenti sebentar di sini untuk melihat langsung telapak kaki raksasa ini,” ujar Ridho kepada portalsatu.com/ di lokasi, Jumat petang, 17 November 2017.

Ridho mengaku takjub dengan besarnya telapak kaki tersebut. Meskipun kata dia, bentuknya sudah tidak asli lagi karena sudah pernah dipugar.

Petang itu, selain Ridho dan tiga temannya, juga ada serombongan wisatawan lokal lainnya dari sejumlah daerah di Aceh. Bahkan ada dua remaja setempat yang mengaku baru pertama kali datang ke sana untuk melihat langsung tapak kaki Tuan Tapa.

“Dulu kami tidak berani turun karena harus melewati karang-karang dan di sini ombaknya besar. Sekarang setelah ada jembatan ini bisa dilihat dari atas, nggak perlu takut lagi,” ujar salah satu remaja tersebut.

Lihat: Menengok Kemegahan Masjid Agung Tapaktuan

Amatan portalsatu.com/, untuk melihat langsung jejak kaki Tuan Tapa ini, wisatawan bisa melewati jembatan tajuk yang dibangun di sisi tebing. Namun jembatan ini belum seutuhnya selesai, di beberapa bagian ada lantai yang belum terpasang karena masih dalam tahap pengerjaan. Namun keberadaan jembatan tajuk ini sangat memudahkan wisatawan dan meminimalisir risiko bagi wisatawan yang selama ini harus melewati karang. Dari sini pengunjung juga bisa dengan leluasa menikmati matahari tenggelam.

Masuk ke lokasi ini pengunjung hanya dipungut biaya Rp2 ribu perorang. Di sini juga tersedia souvenir tapak kaki Tuan Tapa yang bisa dijadikan oleh-oleh.[]