BANDA ACEH – Pakar Otonomi Khusus yang juga akademisi Unsyiah Prof. Husaini mengatakan, UUPA kerap dipreteli disebabkan oleh berbagai hal. Salah satunya karena elite di Aceh dinilai tidak bersinergi. Ia mengatakan elite politik di Aceh tak kompak.
“Kenapa ada UUPA yang dicabut, ini salah satu penyebabnya karena elite di Aceh tak kompak,” kata Prof. Husaini saat menjadi pembicara dalam diskusi publik bertajuk 'Haruskah UUPA Direvisi?' di Aula Fakultas Hukum Unsyiah, Jumat, 4 Agustus 2017.
Ia menjelaskan, elite di Aceh akan ribut jika ada kepentingannya yang merasa diganggu. Jika tidak, elite akan diam saja tanpa bereaksi secara masif.
Ia mencontohkan, saat Abdullah Puteh menguji salah satu pasal UUPA di Mahkamah Konstitusi. Saat itu elite politik di Aceh ribut karena Puteh bakal masuk dalam bursa calon pemimpin Aceh.
“Kalau dulu itu ribut karena akan mengganggu kepentingan. Kalau Abdullah Puteh maju, calon gubernur akan bertambah, peluang menang berkurang,” kata dia.
Ia mengatakan, kondisi tidak kompaknya para elite tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Hal itu dapat membahayakan kekhususan Aceh. Ia berharap elite dapat bersatu untuk mempertahankan UUPA.
“UUPA ini harus ada kekompakan elite. Kalau revisi harus ada yang menguntungkan Aceh,” kata dia.
Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber seperti anggota DPR RI Nasir Djamil, pakar Otsus Prof. Husaini, Ketua KIP Aceh Ridwan Hadi, dan pakar hukum Mawardi Ismail.
Dalam diskusi itu turut diundang juga anggota DPRA dan perwakilan Pemerintah Aceh. Namun, panitia mengatakan kedua pihak itu tak bisa hadir karena berbagai hal.[] (*sar)



