JAKARTA – Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa memutuskan menolak klaim Amerika Serikat menyatakan Kota Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Namun, Presiden Otoritas Palestina, Mahmud Abbas, menyatakan tidak akan menerima usul apapun dari Negeri Abang Sam karena tidak bisa dipercaya.

Abbas kini berharap kepada Eropa buat menjadi penengah dalam perundingan dengan Israel. Walau demikian, negara-negara di Benua Biru tidak bisa sembarangan mengambil sikap.

“Kami tidak akan menerima rencana apapun lagi dari Amerika Serikat, karena mereka bias dan kerap melanggar hukum internasional,” kata Abbas dalam jumpa pers usai bertemu dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dilansir dari laman Associated Press, Jumat (22/12).

Abbas juga meminta sejumlah negara yang sampai saat ini rutin menerima bantuan uang dari Amerika Serikat supaya tidak takut bersikap soal Palestina. Dia juga mendesak negara lain yang belum mengakui keberadaan Palestina supaya cepat bersikap, utamanya soal rencana dua negara.

Dalam jumpa pers itu Macron juga menyatakan tidak sepakat dengan keputusan Presiden AS, Donald Trump, soal status Yerusalem. Dia mengaku sudah berjumpa dengan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, dan mendesaknya supaya kembali ke meja perundingan, serta menghentikan pembangunan wilayah pemukiman ilegal Yahudi.

Dalam pemungutan suara digelar Kamis kemarin, 128 negara anggota PBB menyatakan menyetujui resolusi menolak klaim AS soal Yerusalem. Sedangkan yang mendukung Amerika Serikat dan Israel hanya tujuh negara. Sedangkan 35 lainnya memilih abstain.

Di sisi lain, kondisi di Palestina juga terus bergolak sejak klaim AS soal status Yerusalem pada 6 Desember lalu. Hari ini, seorang pemuda Palestina di Jalur Gaza tewas tertembus peluru di bagian dada karena ditembak oleh prajurit Israel, dalam sebuah bentrokan. Kabar itu disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Kesehatan Jalur Gaza, Ashraf al-Kidra. [] sumber: merdeka.com