ACEH BARAT – Ketua Yayasan Kanopi Bengkulu, Ali Akbar, mengatakan, ekspansi vegetasi (upaya gajah mencari tempat makan baru) yang dilakukan gajah liar hingga merambah perkebunan warga bisa saja disebabkan habitatnya terganggu oleh ulah manusia.
Hal itu dikatakan Ali yang berdomisili di Bengkulu saat dimintai tanggapannya soal fenomena gajah yang merusak dan memakan kelapa sawit milik warga di Aceh.
Menurut Ali, kondisi tersebut ada kalanya karena wilayah jelajah gajah-gajah tersebut sudah dikonversi terlebih dahulu menjadi areal perkebunan kelapa sawit sehingga habitat mereka terganggu.
Selain itu, bisa juga karena adanya pembalakan liar ataupun pembukaan lahan baru di wilayah yang sebelumnya menjadi wilayah jelajah gajah.
“Atau tepatnya sudah terfragmentasi. Pergerakan dengan wilayah yang sudah terfragmentasi ini tentunya berpotensi terjadi persinggungan dengan warga,” kata Ali, dihubungi portalsatu.com/, Selasa, 3 Juli 2018, sore.
Parahnya lagi, kata Ali, adakalanya area yang dikonversi menjadi lahan perkebunan merupakan hutan lindung, yang sudah seharusnya tidak boleh dijamah manusia, karena menjadi tempat hidup dan berlindung berbagai jenis binatang.
“Kalau masuk wilayah hutan lindung dan dikonversi menjadi lahan perkebunan sawit itu pelanggaran namanya. Namun, apabila wilayahnya itu HPL atau hutan yang memiliki hak pengelolaan, itu disebut konflik gajah dengan manusia,” kata ketua yayasan yang aktif di bidang lingkungan itu.
Sebagaimana diberitakan, gajah merusak kebun sawit milik warga di Kecamatan Panton Reu, dan Kaway XVI, tepatnya di Gampong Sibintang dan Gampong Teungoh kabupaten itu, Sabtu, 30 Juni 2018.
Menurut Geuchik Sibintang, Zainal Abidin (45), setidaknya 4 hektare lahan sawit milik warga rusak akibat dimakan gajah. Gajah mendatangi kebun sawit warga pada malam hari.
Untuk menghalau kawanan gajah, warga menggunakan mercon pemberian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat, serta suara letusan dari pipa paralon yang sering digunakan anak-anak sebagai mainan.
Saat bersamaan, menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo, kejadian serupa juga terjadi di wilayah Aceh Tengah dan Pidie.[]




