LHOKSEUMAWE – Panitia Khusus DPRA Daerah Pemilihan V meminta pemerintah merombak ulang proyek bendung irigasi di Gampong Seuneubok, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Jika tidak, dikhawatirkan bendung irigasi itu (tim Pansus DPRA menyebut: bendungan) berpotensi runtuh lantaran konstruksi yang sudah dikerjakan berkualitas rendah.

“Bendungan Seuneubok, Payak Bakong, perlu redesign (desain ulang). Karena selain bendungan, ada pintu air. Jika tidak redesign, ketika bangunan itu menerima beban tinggi berpotensi runtuh,” ujar Ketua Pansus V DPRA Ermiadi Abdul Rahman, S.T., kepada para wartawan di Lhokseumawe, Jumat, 5 Agustus 2016.

Ermiadi didampingi Sekretaris Pansus V DPRA Nuraini Maida dan anggota Pansus Azhari alias Cage, Tarmizi alias Panyang, Hasdarsyah dan lainnya telah mengecek hasil pekerjaan proyek bendung irigasi Seuneubok itu.

Menurut Ermiadi, anggaran proyek itu sekitar Rp4,9 miliar dari APBA. Pansus V (Aceh Utara-Lhokseumawe), kata dia, turun ke lapangan mengecek hasil pekerjaan lanjutan proyek bendung itu sumber dana tahun 2015.

“Hasil pekerjaan bendungan di lapangan kita lihat sangat tidak memuaskan. Posisi tanggul tegak lurus, jika terjadi beban timbunan di samping tanggul, perkiraan kita tidak tahan lama kalau kondisi fisiknya seperti itu, seharusnya posisinya miring,” kata Ermiadi.

Ermiadi mengatakan, dalam APBA 2016 ada anggaran untuk tahap lanjutan proyek bendung irigasi Seuneubok itu. Akan tetapi, kata dia, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) tidak mau meneken kontrak lanjutan 2016 sebelum proyek itu didesain ulang.

“Tahun 2016 ada dianggarkan untuk lanjutan, cuma karena permasalahan ini, belum dilanjutkan, pihak dinas tidak mau teken kontrak untuk proyek lanjutan,” ujar anggota DPRA dari Fraksi Partai Aceh itu.

Ermiadi menambahkan, Pansus V DPRA akan memanggil pejabat dinas terkait untuk meminta penjelasan lebih lanjut terkait proyek itu. “Usulan awal kita perlu perombakan total, dimulai dari perencanaan,” katanya.

Dia mengatakan total anggaran proyek/kegiatan dari APBA 2015 untuk Aceh Utara dan Lhokseumawe mencapai Rp100 miliar lebih. “Dari beberapa titik proyek sumber dana APBA 2015 yang sudah kita cek di Aceh Utara dan Lhokseumawe, proyek bendungan itu yang paling tidak memuaskan hasil pekerjaannya,” ujar Ermiadi.

Data diperoleh portalsatu.com dari laman resmi LPSE Pemerintah Aceh, di bawah satuan kerja Dinas Pengairan Aceh tahun 2014 terdapat “Pembangunan Bendung Irigasi Gampong Seuneubok, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara” dengan pagu Rp6,5 miliar. Tahun 2015, “Supervisi Pembangunan Bendung Seunebok, Paya Bakong (Tahap-II), Aceh Utara (Otsus Aceh)” Rp150 juta. Tahun 2016, “Supervisi Pembangunan Bendung Seunebok, Paya Bakong (Tahap-III), Aceh Utara (Otsus Aceh)” Rp200 juta.[] (idg)