TAPAKTUAN – Pesisir pantai Gampong Ujong Tanoh, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan tiba-tiba jadi incaran warga untuk menikmati mandi-mandi laut disetiap sore hari. Ratusan warga yang mayoritasnya berasal dari Samadua dan sebagian lagi dari Tapaktuan dan Sawang tersebut, mulai memadati pantai yang dilapisi pasir putih dan air jernih warna biru tersebut mulai pukul 16.20 WIB atau tepatnya seusai shalat ashar saban hari.

Keberadaan ratusan warga mandi-mandi laut disetiap sore hari di pantai yang berlokasi dipinggir jalan lintasan Nasional Tapaktuan – Blang Pidie tersebut, mengundang perhatian warga lainnya yang sedang melintas, lantaran melihat pemandangan yang tak seperti biasanya.

Maklum, selama ini persisir pantai yang berada persis dipinggir badan jalan Negara tersebut, sering terjadi abrasi atau pasang air laut. Saat air laut sedang pasang, jangankan untuk warga mandi-mandi, keberadaan badan jalan Negara saja terancam amblas ke dasar laut akibat semakin parah tergerus air laut karena dihantam ombak besar.

Itu sebabnya, disepanjang pinggir pantai lebih kurang sekitar 800 meter telah dibangun tebing (break water) menggunakan batu gajah untuk menghindari menyusutnya badan jalan Negara.

Namun meskipun sudah dibangun break water, di saat air laut sedang pasang disertai angin kencang, terjangan ombak yang sangat deras menghantam break water mengakibatkan percikan air laut mengenai pengendara sepeda motor yang sedang melintas. Begitulah gambarannya kondisi terjangan air laut di saat sedang pasang.

Nah, kondisi berbeda 180 derjat justru secara tiba-tiba terjadi sekitar satu bulan lalu. Air laut di pesisir pantai Gampong Ujong Tanoh yang selama ini dikenal ganas dengan ketinggian air hampir rata dengan break water, secara tiba-tiba menyusut sekitar 15 meter.

Keluhan masyarakat setempat yang sejak beberapa tahun terakhir tidak pernah lagi melihat pasir putih di sepanjang pinggir pantai pun berakhir sudah. Sebab dengan menyusutnya air laut tersebut secara otomatis sudah adanya pasir sebagai pembatas antara bibir pantai dengan air laut. Sejak saat itulah secara perlahan-lahan pesisir pantai persis berada di depan pintu gerbang masuk ke kompleks Perumnas Samadua itu, ramai dikunjungi warga untuk mandi-mandi laut khususnya pada waktu sore hari.

Hendro, 35 tahun, salah seorang warga Gampong Payo Nan Gadang, Kecamatan Samadua, yang ditemui dilokasi Kamis 16 Februari 2017 sekitar pukul 17.00 WIB menceritakan bahwa, surutnya air laut dari bibir pantai tersebut sudah berlangsung sejak sebulan lalu pasca berakhirnya terjangan musim barat yang ditandai air laut surut sehingga terjadi pendangkalan dari bibir pantai sekitar 500 meter dan meredanya terjangan ombak besar seiring berhentinya badai.

“Sebenarnya, puluhan tahun lalu dilokasi ini memang tempat masyarakat berekreasi pada hari libur atau setiap sore hari. Karena selain di dukung oleh belum parahnya terjadi abrasi seperti selama ini, juga di dukung dengan pemandangan alam yang indah dan ombak laut agak tenang serta air laut tidak terlalu dalam. Tapi daya pikat warga tersebut hilang drastis sejak beberapa tahun terakhir pasca diterjang abrasi yang sangat parah hingga mengancam badan jalan Negara,” ungkapnya.

Setelah berlalu selama beberapa tahun, lanjut Hendro, saat ini lokasi tersebut kembali ramai dikunjungi warga baik yang berasal dari Samadua, maupun dari Tapaktuan dan sebagian lagi dari Sawang.

Para warga mulai dari pria dan perempuan dewasa hingga anak-anak dan remaja tersebut, kata Hendro, mulai memadati lokasi tersebut sejak pukul 16.20 WIB atau seusai shalat ashar saban harinya. Mereka datang ke lokasi tersebut bersama sanak keluarga dan kerabatnya khusus untuk mandi-mandi laut di sore hari. Untuk memudahkan mereka menikmati mandi laut hingga ke agak dalam sedikit berjarak dari bibir pantai sekitar 20-50 meter, sebagian warga khusus membawa ban dalam bekas mobil yang sudah di masukkan angin sehingga mereka bisa berapung-apung di atas air laut.

“Jumlah kunjungan warga yang ingin menikmati mandi-mandi laut semakin membludak lagi pada sore hari libur seperti Sabtu sore atau Minggu sore. Di hari – hari tersebut disepanjang pantai ini penuh di padati warga,” ujar Hendro.

Karena melihat tingkat kunjungan warga ke pantai tersebut terus meningkat dari hari ke hari, maka Hendro mengusulkan kepada Pemkab Aceh Selatan dan pihak kepolisian agar menempatkan tim relawan Satgas SAR dan petugas TRC BPBK di sekitar lokasi tersebut. Hal itu dia maksudkan agar jika sewaktu-waktu terjadi insiden orang tenggelam atau terseret arus, bisa cepat diberikan bantuan.

“Hal itu sudah saya sampaikan kepada Kapolsek Samadua dengan harapan semoga aspirasi tersebut dapat di teruskan kepada Pemkab Aceh Selatan melalui TRC BPBK dan Satgas SAR. Sehingga potensi atau kemungkinan akan terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan tersebut setidaknya sudah di antisipasi sejak sekarang, bukan justru sudah jatuh korban jiwa baru ada penanganan,” tandas Hendro yang di iyakan oleh rekan-rekannya yang lain.[]