Oleh: Wenni Agustin

ADA yang begitu berharga yang tidak saya dapatkan di mana pun, bekerja sama dan diterima dengan ramah. Hal yang terdengar biasa saja tapi sulit untuk dilakukan, perlu orang-orang hebat untuk bisa bergandeng tangan dan berkerja bersama demi satu tujuan dengan karakter yang berbeda-beda.

Pantan Sinaku, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah menjadi desa tempat tujuan pengabdian Kuliah Kerja Nyata (KKN) kami. Bagi saya untuk masuk dan bergabung ke suatu lingkungan baru bukanlah hal yang mudah, tetapi bagi kami itu menjadi sangat mudah (karena bersatu). Awalnya saya menganggap pengabdian itu begitu sulit dan tidak mampu saya lakukan dengan baik, tetapi kenyataan membuktikan sebaliknya, pengabdian yang saya lakukan bersama teman-teman alhamdulillah sangat mudah dan menjadi pengalaman yang sangat berharga yang tidak saya temukan di tingkat pendidikan manapun.

Pengabdian saya bukanlah sesuatu hal yang besar, tetapi saya berharap dapat begitu membekas hingga dirindukan di hati masyarakatnya. Begitu pula rindu saya kepada mereka hingga kadang menitikkan air mata, bagaimana tidak, saya sudah dianggap anak sendiri oleh ibu yang telah begitu dekat dengan saya.

Apa yang begitu mahal yang tidak dapat saya beli dengan materi ialah cinta dan kasih sayang mereka kepada saya. Begitu banyak pesan yang diberikan kepada saya, begitu banyak kesan dan pesan yang tertinggal di hati saya, masih jelas dan tidak mungkin saya lupakan. Desa dengan sejuta kerindukan dan kenangan yang indah.

Hal berharga lainnya yang saya dapatkan ialah bahwa kemampuan yang kami bawa dari kampus (baca: Universitas Syiah Kuala) tidak akan ada apa-apanya tanpa keterbukaan masyarakat yang mau menerima dan mendukung apa yang menjadi tujuan kami. Ketergantungan yang tercipta di antara kami (mahasiswa KKN dan warga) begitu besar, kami membutuhkan warga untuk bisa bekerjasama dalam menjalankan program, warga juga membutuhkan kami untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Ini yang membuat kami luar biasa, warga yang ingin tahu dan kami yang memberi tahu.

Dulu dalam benak saya, “Wah Pantan Sinaku begitu sukar untuk ditempuh dan begitu jauh” tetapi setelah sampai dan berada di desa tersebut semua tidak terasa dan begitu menarik.

Ada pesan yang begitu mendalam yang menghapuskan dugaan awal saya itu, yaitu waktu malam keberangkatan/perpisahan bersama kepala desa (masyarakat Bener Meriah menyebutnya Reje Kampung), warga dan pemuda desa. “Buah yang manis dan enak itu biasanya ada di pucuk dan sukar untuk di ambil,” titah Reje malam yang penuh haru itu.

Pantan Sinaku, desa yang jauh tetapi begitu ramah dan damai. Pantan Sinaku menjadi tempat kami bersatu dan bekerja sama dalam menggapai tujuan pengabdian kami ini. Pantan Sinaku telah menjadi laboratorium alam yang paling menjanjikan.

Terima kasih sahabat, terima kasih Pak Reje, Ibu Reje dan warga Kampung semua, terima kasih juga kepada bapak Dr. Teuku Muttaqin Mansur, MH, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kami, yang selalu menyemangati selama kami semasa pengabdian. Semoga Allah curahkan rahmat dan nikmatnya kepada kita semua. Amin.[]

*Mahasiswa FKIP PPKN Universitas Syiah Kuala dan Peserta KKN Angkatan 12 di Bener Meriah, di bawah bimbingan Dr. Teuku Muttaqin Mansur, MH