Refleksi pembangunan pariwisata demi kemajuan perekonomian tengah diupayakan pemerintah terhadap Provinsi Sumatra Utara. Kota Medan yang memiliki salah satu bandar udara tersibuk di Indonesia, tercatat pada TW II mengalami pertumbuhan harga properti residensial mencapai 7,44 persen. Tak hanya itu, pemerintah yang tengah gencar membenahi infrastruktur dan meningkatkan mutu turisme Danau Toba sebagai Monaco of Asia. Proyek ini diprediksi dapat memberikan efek positif bagi perekonomian Sumut termasuk dapat menyuburkan sektor properti.
Lain lagi dengan Palembang yang diuntungkan karena terpilih sebagai tuan rumah Sea Games tahun 2011 silam dan Asian Games 2018 mendatang. Menyambut kedatangan atlet dan wisatawan, pemerintah mempersiapkan event olahraga tingkat internasional ini dengan pengembangan infrastruktur seperti ruas jalan tol Palembang-Indralaya dan LRT. Propektifitas properti terlihat dari merangkaknya harga rumah dijual di Palembang. Banderol tertinggi pada September 2016 berada di Sukamaju mencapai Rp. 16,071,429 per meter persegi atau meningkat 0,6 persen dibandingkan Agustus 2016.
Meskipun belum terlalu booming dipilih untuk investasi properti dibandingkan dengan Medan atau Palembang, sektor properti Propinsi Nangroe Aceh Darussalam juga dapat semakin dibangkitkan. Berkaca dari Medan, potensi wisata bahari Serambi Mekah berpeluang untuk merangsang pertumbuhan properti. Pemerintah terus berupaya untuk membenahi pariwisata melalui program-program yang dapat menarik wisatawan. Beberapa di antaranya ialah peningkatan kebersihan lokasi wisata, halal tourism project (proyek wisata halal), dan basket fishing.
Badan Pusat Statistik Aceh mencatat wisman yang masuk ke provinsi ini pada Juli 2016 silam mencapai 2.363 orang atau tumbuh 100,42 persen dibandingkan Juni 2016 yang hanya sekitar 1.279 orang. Potensi strategis wisata bahari Sabang untuk perhotelan dan perdagangan pun telah dipromosikan pemerintah kepada 35 investor lintas negara pada April 2016 silam. Jika melihat ke depan, keberhasilan peningkatan wisatawan yang selanjutnya diikuti dengan kedatangan investor dapat menjadi rangsangan bagi kemajuan properti Aceh. Permintaan unit komersial seperti kantor, kios, ruko, gudang, serta kebutuhan perumahan bagi tenaga kerja yang terserap pun otomatis ikut terkerek naik.[]


