Minggu, Juli 14, 2024

Tanggapan Ketua DPRK Aceh...

ACEH UTARA - Mendagri Tito Karnavian memperpanjang masa jabatan Pj. Bupati Aceh Utara...

Selamat! 2 Siswa Kota...

SUBULUSSALAM - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pengembangan Talenta...

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...
BerandaPasokan Daging Terindikasi...

Pasokan Daging Terindikasi Spesies Babi Berasal dari Australia

TAKENGON – Pemilik penggilingan bakso yang diduga terindikasi spesies babi Polymerase Chain Reaction (PCR) Konvensional di Desa Blang Kolak II, Aceh Tengah, memasok daging beku dari Australia. Sementara distributor daging beku tersebut adalah sebuah perusahaan yang ada di Medan, Sumatera Utara.

Demikian disampaikan Kabid Perdagangan pada Dinas Perdagangan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Aceh Tengah, Ir. Zainul Adha Purba, MM, di sela-sela sidak di lokasi penggilingan bakso Desa Blang Kolak II, Aceh Tengah.

Zainul Adha mengaku, selama ini pihaknya belum mengecek daging baku impor yang dimasukkan ke Aceh Tengah. “Dengan temuan ini, kedepan kita akan melakukan pengecekan,” kata Zainul Purba.

Petugas langsung menghentikan operasi penggilingan bakso hingga batas waktu yang belum ditentukan, setelah adanya temuan tersebut. Pihak dinas juga kembali mengambil sampel daging bakso yang diduga mengandung spesies babi PCR untuk diuji di berbagai veteriner, di Medan, Sumatera Utara. Menurutnya hasil pengujian akan menjadi penentu bagi petugas untuk mengambil sikap terhadap usaha penggilingan bakso yang diduga terindikasi mengandung spesies babi.

“Penutupan usaha ini hanya bersifat sementara, karena ini daging ekspor. Bisa saja dari pemasok di Medan yang mencampur spesies babi,” ujarnya.

Pemilik penggilingan bakso, H Ahmad Sukarwi Aziz, mengakui pasokan daging beku tersebut berasal dari Medan, Sumatera Utara. Menurutnya jumlah pasokan daging yang dipesan bervariasi, antara 300-400 kilogram per sekali pesan.

“Ada juga warga yang menggunakan daging sendiri,” katanya.

Ahmad mengaku belum menerima hasil pengujian Balai Veteriner Medan, Sumatera Utara, hingga petugas menyidak tempat usahanya. Dia juga menyebutkan tidak pernah menerima tamu atau tim pengujian dari dinas untuk mengambil sampel daging beku di tempat usahanya selama sebulan terakhir.

Menyikapi hal ini, Kadis Pertanian Aceh Tengah, drh. Rahmandi, menjelaskan, pengambilan sampel daging beku yang dilakukan Balai Veteriner Medan, Sumatera Utara, dilakukan dengan cara menyamar. Pengambilan sampel tersebut turut didampingi petugas dari dinas di Aceh Tengah.

“Kita yang membeli dagingnya pada saat itu, dan daging itu kita jadikan sampel,” kata Rahmandi.[]

Baca juga: