BANDA ACEH – Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di bawah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Rumah Baca Aneuk Nanggroe (Ruman) Aceh menggelar hari pertama masuk sekolah, Senin, 15 Juli 2019 pagi, sesuai kalender pendidikan nasional.
Kepala Sekolah PAUD Ruman Aceh, Nurul Fajry menuturkan sejak tahun ajaran 2015/2016 lalu, layanan pendidikan formal yang mereka lakukan ini dikhususkan buat kaum fakir miskin dan duafa.
“Pada tahun ajaran ini, dari total 78 murid, kita menggratiskan 64 anak fakir miskin dan yatim yang duafa. Hal ini kita lakukan agar mereka bisa mengakses sekolah yang ramah dan berkualitas”, ujar Fajry.
Selain kategori gratis, Fajry melanjutkan, ada 9 anak yang berbayar sebagian serta 5 lainnya berbayar penuh. Setiap anak yang digratiskan biaya pendidikan mempunyai donatur tetap yang berbagi rezekinya Rp350.000/bulan atau Rp4,2 juta/tahun.
“Tahun ini donatur kita semakin beragam. Baik dari segi profesi maupun asal mereka. Selain dari warga Aceh, juga ada WNI yang tinggal di Abu Dhabi, Malaysia, Swiss dan German. Bahkan, ada 2 di antaranya asli warga negara Uni Emirat Arab. Alhamdulillah, terima kasih kami haturkan kepada para donatur dimana pun berada,” kata Fajry.
Sementara itu, Ketua PKBM Ruman Aceh yang juga mantan Kepala Sekolah PAUD Ruman Aceh, Rizky Sopya menjelaskan, selain sekolah PAUD, pihaknya melaksanakan 3 layanan lainnya. Pertama, TBM (taman bacaan masyarakat) dengan beberapa kegiatan turunannya. Kedua, pendidikan kesetaraan berupa paket B untuk jenjang SMP dan paket C buat jenjang SMA. Ketiga, latihan keterampilan.
“Semua layanan pendidikan tersebut, baik formal maupun informal kita sediakan secara gratis buat masyarakat. Terutama kalangan fakir miskin dan duafa atau rentan secara sosial ekonomi. Survei tim kita langsung ke rumah mereka yang menentukan layanan gratis tersebut,” ungkap Rizky.
3 Prinsip Utama
Sementara itu, Pembina PKBM Ruman Aceh, Ahmad Arif menjelaskan, dalam menjalankan khidmah, pihaknya selalu berpegangan pada 3 prinsip utama. Yaitu, murni sosial kebajikan, independen dan hana fee. Sedangkan dalam proses melayani publik, pihaknya selalu melakukan dan mengajak untuk berbaik sangka, jujur dan tanggung jawab.
“Kita selalu berupaya untuk membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa. Prinsip hana fee itu menjadi yang terberat saat ini, namun kita terus saling mengingatkan dan saling menguatkan,” tutur Arif.[](rilis)




