Oleh Taufik Sentana*


Setiap kita adalah pelanggan setia.
Kesetiaan kita pada kepentingan, keinginan dan makna makna.
Wlalau nyatanya, kita tidak pernah
benar benar setia. Kebanyakan kita hanya berdusta.

Tapi kita tetap menjadi pelanggan.
Setia pada jaminan sosial, 
setia pada persekongkolan
setia pada warna layar kaca
setia pada konsumerisme
setia pada gaya dan komoditi
setia pada hegemoni
dan setia pada harapan harapan.
Tapi bisakah kita benar benar setia?

Kita hanyalah pelanggan
dalam rantai sosial yang padat, garang
dan mencekam. Untuk itu ada yang sengaja menjadi predator, atau
ada yang tersudut di bawah kasta rantai makanan, menjadi lapuk, menjadi menjadi limbah, menjadi uap: Terjebak dalam piramida sosial yang terbalik.

Namun predator puncak sekalipun, atau penguasa arus massa, atau pemilik modal, atau apalah namanya. Tetaplah sebagai pelanggan. Pelanggan pada kehampaannya, pelanggan pada naluri naluri rendah yang disangka cawan surga. Entah, apakah ia akan cukup setia?

Yang pada waktunya
mengeluh pada otak dan saraf
mengeluh pada jantung dan darah
mengeluh pada tulang dan kulit
mengeluh pada asa yang binasa
mengeluh pada hantu hantu masa lalu
atau mengeluh pada mimpi mimpi yang segera robek.

Lalu pada apa ia akan terus setia?
pada makna yang membuatnya tiada.
atau pada fana yang membuatnya ada?

Bekal kesalihan jua yang takkan membuatmu mengeluh Kemudian.
Terserah pada posisi manapun rantai sosialmu.  Apakah engkau pelanggan puncak atau pelanggan akar di tanah. Jadilah pelanggan setia pada Kemuliaan, pelanggan yang terhormat.[]

*Peminat sastra pop dan budaya urban.