KAKEK berusia 70 tahun ini tidak kuasa membendung airmatanya, lagu melayu “Fatwa Pujangga” yang dia nyanyikan sungguh mengembalikan pikirannya ke masa lalu, masa di mana “berpetualang” di Jakarta dan Malaysia sebagai pelantun Melayu.

Nyak Cut Ujong Rimba yang berjulukan “Bram Aceh”, pria asal Blang Pidie, Aceh Selatan itu kini sudah berusia 70 tahun, namun tetap bernyanyi, kendati sudah tampak tidak maksimal, namun terasa dia bekas penyanyi bersuara merdu dan petualang “seni” hingga ke negeri jiran.

“Saya dulu bersama-sama dengan Bob Rizal di Malaysia, berjuang menjadi penyanyi bersama-sama,” kata Nyak Cut Ujong Rimba kepada Portalsatu.com selepas merayakan ulang tahun Partai Demokrat ke-15 di Panti Jompo Rumah Sejahtera, Lam Glumpang, Ulee kareng, Banda Aceh, Sabtu 10 September 2016.

“Bram Aceh” adalah penghuni Panti Jompo Rumah Sejahtera sejak 31 Agustus 2016 lalu, setelah petugas Dinas Sosial menemukannya di sebuah Meunasah di kawasan Lampriet, Banda Aceh. “Saya mau ke Sabang sebenarnya,” ujar Bram Aceh.

Sabang? Itulah kota pertama yang mengajarkannya bernyanyi. Bram Aceh memulai karir sebagai penyanyi panggung lewat Group Band The Blue Hill, kelompok musik Hotel Sabang Hill di masa Sabang berjaya dengan pelabuhan megah yang disinggahi kapal-kapal asing.

Lima tahun bersama The Blue Hill Band, Bram lantas dibawa ke Jakarta oleh sang ayah. Di kota Betawi itulah Bram Aceh melanjutkan bakatnya menjadi penyanyi di Cafe, bergabung dengan beberapa group Band, ikut bermain film layar lebar dan sinetron juga. Bram Aceh tercatat sebagai anggota Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) dengan No. Anggota AB01.0021/95.

“Kenal sama Bapak Sjamsul Kahar?” Tanyanya tiba-tiba pada Portalsatu.com. “Beliau guru seni saya di sekolah Asisten Apoteker,” kenangnya.

Shamsul Kahar adalah seniman, penulis Naskah Drama, dan Wartawan. Sjamsul Kahar sekarang dikenal sebagai tokoh media di Aceh.

Selama di Jakarta, “Bram Aceh” muda sedikitnya telah menelurkan tiga album Melayu, namun dia lupa nama-nama album lagunya itu. Hanya satu yang diingat Bram Aceh, album Melayu berjudul “Bahtera Merdeka”. 

“Tapi berisi lagu-lagu Melayu juga,” lanjutnya.

Di Negeri Jiran Malaysia, Bram Aceh juga dikenal aktif. Dia adalah salah seorang seniman Aceh yang pernah bergabung dengan E Ramli (bukan P Ramlee), Muisisi dan Artis Malaysia yang terkenal pasca P Ramli. 

“Saya empat masa di sana. Saya seronok di Malaysia. Bernyanyi dapat uang banyak,” jelas Bram Aceh.

Nyak Cut Ujong Rimba alias Bram Aceh sebenarnya bukan orang yang kesulitan ekonomi. Hasil pernikahannya dengan Ninsih, Istri tercinta, Bram dikarunia 2 putra dan satu putri Jacko, Poppy, dan Maul. Dua anaknya adalah sarjana Eonomi Universtias Atmajaya, Jakarta yang sekarang tinggal di Singapore, dan putra bungsunya sedang dibangku kuliah.

“Sekarang kebutuhan hidup saya setiap bulan dikirim oleh anak yang di Singapore,” jelasnya.

Namun begitu, Bram Aceh ingin kembali ke Sabang dan meninggalkan keluarganya di Jakarta. Berada di Pantoi Jompo tidak lantas membuat dia sedih, malah sebaliknya Bram ingin menghabiskan masa tuanya untuk beribadat.

“Baru beberapa hari saya di sini saya senang. Saya bisa fokus beribadah,” demikian Bram Aceh, seorang tua yang tetap komit menjadikan seni sebagai profesinya, termasuk di usia senja dia ingin terus menghibur, hingga Anggota DPR-RI Muslim, Sekjen Partai Demokrat DPD Aceh Miriadi Amir, dan Ketua DPC Demokrat Banda Aceh Yudi Kurnia larut dalam tembang menyentuh Bram Aceh, Surga di telapak Kaki Ibu.[]