LHOKSEUMAWE – Pembangunan pabrik pupuk NPK PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) terkendala impor spare part dari Spanyol dan Amerika Serikat. Material tersebut tidak dapat disuplai disebabkan masih dalam kondisi pandemi Covid-19.
Manajer Humas PT PIM, Nasrun, mengatakan akibat suplai spare part atau material yang dibeli di luar negeri itu terkendala, sehingga menghambat pekerjaan untuk pembangunan pabrik NPK. Seharusnya Desember 2021 pabrik itu sudah dapat beroperasi sesuai kontrak PIM dengan PT Pembangunan Perumahan (PP) sebagai pekerja tenaga skill. Namun, di masa pandemi Covid-19 ini banyak pekerja ahli yang memang terbatas untuk di-hire (mempekerjakan), dan yang menjadi terkendala utama adalah suplai spare part dari luar negeri.
"Jadi, setiap purchase order atau PO yang sudah deal (sepakat) itu mereka tidak bisa menyuplai material yang kita (PT PIM) beli tersebut. Maka terkendala pekerjaan untuk proses pembangunan pabrik NPK, selain dari faktor tenaga kerja skill-nya. Tetapi ini ada kesepakatan dengan PT PP untuk penambahan masa kontrak bersama PIM, itu maksimal pada akhri April 2022 dapat dilakukan operasional pabrik tersebut," kata Nasrun kepada portalsatu.com/, Kamis, 17 Juni 2021.
Nasrun menambahkan, dari pihak pemegang saham PIM yaitu PT Pupuk Indonesia (Persero), memberi deadline untuk PT PP di akhir April 2022 pabrik NPK harus sudah produksi. Sebenarnya kontrak antara PIM dan PP dilakukan sebelum memasuki Desember 2021 sudah diperpanjang, dan sejauh ini masih dilakukan negosiasi dengan pihak PT PP.
"Untuk proses pembangunan proyek pabrik sudah mencapai 52 persen, seharusnya kita sudah masuk antara 70 sampai 80 persen. Kalau materialnya bisa disuplai terus ke sini (PIM) dari luar negeri, tentu tidak akan menjadi kendala pekerjaan," ujar Nasrun.
Menurut Nasrun, anggaran pembangunan pabrik NPK mencapai Rp1 triliun lebih. "Kalau dimulainya pembangunan pabrik itu saya tidak ingat persis, jika tidak salah pada 2019 dengan target sebelumnya tiga tahun selesai," ujar Nasrun.[]




alasan yang sangat tidak logis. lagi-lagi covid 19 dijadikan kambinghitam untuk menutupi ketidakbecusan.