LHOKSEUMAWE – Komandan Detasemen Polisi Militer Angkatan Laut (Dandenpomal) Lanal Lhokseumawe, Mayor Laut (PM) Anggiat Napitupulu, mengatakan pihaknya telah menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan berencana yang dilakukan oknum anggota TNI AL berinisial KLD DI terhadap Hasfiani (37) sebagai agen mobil.

“Kita telah melaksanakan rekonstruksi peristiwa pembunuhan berencana atau menyembunyikan mayat, atau pencurian dengan kekerasan dan penyalahgunaan senjata api yang diduga dilakukan tersangka KLD DI anggota KAL Bireuen Lanal Lhokseumawe,” kata Anggiat Napitupulu kepada wartawan usai rekonstruksi di Jembatan Pelabuhan Krueng Geukueh, Aceh Utara, Rabu, 26 Maret 2025.

Anggiat Napitupulu melanjutkan, “Dalam rekonstruksi ini tersangka memperagakan 47 adegan mulai dari pertemuan awal tersangka dengan korban, hingga pembuangan jasad korban”.

Menurut Anggiat, saat itu (Jumat, 14 Maret 2025) tersangka menggunakan senjata api jenis pistol rakitan yang dibeli sendiri di Lampung. “Pembunuhan ini sudah direncanakan sebelumnya, dan tersangka bertindak sendirian dalam aksi tersebut”.

Baca juga: Pomal Lanal Lhokseumawe Gelar Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Hasfiani, Ini Adegannya

Ditanya status dua anggota TNI AL berinisial KLD Az dan KLD AY yang dihadirkan saat rekonstruksi itu, Anggiat mengatakan, “Keduanya saksi, (berperan) itu hanya membantu dalam proses pembuangan jenazah korban. Sejauh ini tersangka masih satu orang yaitu KLD DI”.

Menjawab portalsatu.com/ soal kedua saksi itu memakai baju oranye dan tangannya diborgol, Anggiat menyebut, “Karena mereka membantu menyembunyikan jenazah itulah sebabnya”.

Anggiat menegaskan pihaknya ingin agar kasus ini segera dituntaskan, sehingga proses hukum dapat berjalan dengan lancar. “Oleh karena itu, kami meminta rekan-rekan media untuk terus mengawal perkembangan kasus hingga nantinya perkara ini dilimpahkan ke Auditor Militer,” ucapnya.

Dandenpomal Lhokseumawe turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, dan memastikan pihaknya telah beberapa kali mendatangi keluarga korban sebagai bentuk empati atas peristiwa tersebut.

“Kami juga tidak menginginkan hal seperti ini terjadi. Kami sudah berulang kali menemui keluarga korban untuk menyampaikan duka cita mendalam,” ujar Anggiat Napitupulu.[]