MENJADI lazim bila pemimpin identik dengan satu pahat yang memahat catatan-catannya di lembaran-lembaran sejarah. Seperti Sulltan Al Kahar yang dahulu menjalin hubungan Aceh-Turki pada masa itu. Dengan bukti sejarah yang masih ada sampai hari ini, seperti makam Turki di Bitai, artefak aceh di Belanda dan negeri lainnya, dan catatan hubungan kerjasama antara Aceh dengan Turki di arsip negara Turki.
Sama juga dengan Sultan Iskandar Muda yang catatan tentangnya masih banyak disimpan di Negeri Malaysia. Dan di Aceh kenangan itu masih dapat dilihat pada fisik bangunan Pinto Khop, Gunongan, dan Masjid Raya Baiturrahman, dan lainnya.
Atau juga pada masa Sultanah yang shalehah Sultanah Zakiatuddin Inayatsyah yang mengirimkan hibbah untuk biaya perawatan Kakbah dan masjid Nabawi yang kala itu kekurangan belanja. Dan juga pada tahun- tahun setelahnya tercatat tanah-tanah wakaf dari Aceh (Al Asyi) telah ada di sekeliling Kakbah yang masih ada hingga saat ini.
Kemudian Lagi pada saat kesultanan Aceh sedang menghadapi musibah di kepung Belanda pada abad 18. Waktu itu Sayyid Abdullah bin Saifuddin bertindak sebagai penyumbang harta emas 5- 16 kilogram emas pada 10 Maret 1873 untuk mendanai perjuangan melawan pengepungan Belanda ke atas Kesultanan Aceh.
Demikian juga pada masa Gubernur Daud Beureueh yang menyumbang emas Aceh sebanyak 20 kilogram guna membeli pesawat terbang untuk Indonesia yang kala itu Indonesia masih belum memiliki satu pesawat pun. Yang bukti ada di Tugu Monas dan kerangka pesawat Seulawah.
Dan seorang lagi yang tidakkan pernah luput di ingatan rakyat Aceh, yaitu Hasan Tiro, yang membela kepentingan Aceh hingga mewujudkan sebuah perdamaian antara Aceh dengan pemerintan Indonesia. Sebagai bukti nyata adalah Partai Aceh yang kini diharapkan bisa membawa Aceh terus bisa ikut dalam mendukung peradaban dunia. Dan tetap menjadikan Aceh sebagai mitra kerja yang baik.
Dengan itu, hari ini rakyat Aceh butuh akan seorang pemimpin yang berjiwa membangun. Yang mencintai Islam, menjaga batas hubungan dengan pemimpin non muslim seperti Sultan Iskandar Muda. Bersikap murah hari seperti Sultanah Sultanah Zakiatuddin Inayatsyah. Dan ahli membangun hubungan diplomasi dengan luar seperti Sultan Al Kahar.
Aceh masa depan kan kembali dikenal dengan perdagangan, ilmu pengetahuan, murah hati, dan serambi ini kembali terekat dengan induknya, Mekkah.[]
Penulis: Lodins LA, bahan bacaan; https://munawiraceh.wordpress.com/2011/04/12/aceh-serambi-mekkah/-, https://id.wikisource.org/wiki/Pidato_Hasan_Tiro_pada_kepulangannya_ke_Aceh, http://www.peradabandunia.com/2013/02/banda-aceh-sebaga-pusat-dagang.html, dan lain-lain.



